Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 30 Mei 2010

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA PADA POKOK BAHASAN PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW

Dewasa ini pembangunan di Indonesia antara lain diarahkan untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki peran yang strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga tidak berlebihan bila hal ini sering dijadikan parameter untuk mengukur tingkat kemajuan suatu bangsa. Sehubungan dengan hal itu, pendidikan merupakan salah satu wahana yang dapat memberi kontribusi dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dan berpotensi.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang


Dewasa ini pembangunan di Indonesia antara lain diarahkan untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki peran yang strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga tidak berlebihan bila hal ini sering dijadikan parameter untuk mengukur tingkat kemajuan suatu bangsa. Sehubungan dengan hal itu, pendidikan merupakan salah satu wahana yang dapat memberi kontribusi dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dan berpotensi.
Keberhasilan program pendidikan melalui proses belajar mengajar di sekolah sebagai lembanga pendidikan formal dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu siswa, tenaga pendidikan, biaya, sarana dan prasarana, serta lingkungan. Apabila faktor-faktor tersebut dapat dipenuhi sudah tentu akan memperlancar proses belajar mengajar, yang dapat menghasilkan pencapaian hasil belajar yaitu lulusan sekolah yang bermutu.
Berbicara mengenai mutu pendidikan berarti secara tidak langsung menyinggung peran aktif seorang guru di dalam kelas. Seorang guru dituntut mampu menciptakan suasana belajar mengajar yang mampu memotivasi siwa agar senantiasa belajar dengan baik dan bersemangat.
Hal terpenting lainnya yang harus dimiliki seorang guru sebagai pengajar adalah kemampuan dalam memilih sekaligus menggunakan model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran sungguh membawa pengaruh yang sangat besar terhadap hasil usaha kita sebagai guru.
Pembelajaran matematika yang berkualiatas sangat diperlukan, karena disamping mendasari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, matematika dapat melatih siswa untuk berpikir secara logis, rasional, oprasional dan terukur sesuai dengan karakter ilmu. Oleh karena itu, matematika yang diajarkan di sekolah-sekolah harus dikuasai sedini mungkin oleh para siswa. Gambaran penguasaan konsep matematika oleh siswa dapat dilihat pada hasil balajar yang telah dicapai siswa untuk mata pelajaran matematika.
Dalam pembelajaran di sekolah, pelajaran matematika pada umumnya kurang diminati oleh siswa. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran matematika diperlukan suatu model pembelajaran yang baru dan bervariasi yang dapat membangkitkan daya kreativitas dan motivasi siswa untuk belajar secara mandiri dan bekerja sama dengan siswa lain dalam kelompok-kelompok belajar siswa. Ketelitian dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang banyak melibatkan siswa secara aktif dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, sehingga secara tidak langsung berdampak pada peningkatan hasil belajar matematika siswa.
Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara singkat dengan guru bidang studi matematika kelas VII1 MTsN Konda pada tanggal 31 Agustus 2009, diperoleh keterangan bahwa hasil belajar matematika siswa kelas VII1 masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata semester satu yang diperoleh satu tahun terakhir sebesar 50,25. Rendahnya hasil belajar tersebut disebabkan karena siswa kesulitan dalam memahami materi matematika. Banyak faktor penyebab sehingga siswa tidak memahami dengan baik materi matematika yang diajarkan oleh guru. Salah satu faktor penyebabnya adalah model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menyajikan materi matematika.
Berdasarkan hasil perbincangan dengan guru matematika kelas VII¬¬¬¬¬¬1 MTsN Konda pada saat observasi menunjukan bahwa model pembelajaran yang digunakan adalah konvensional yaitu model pembelajaran yang berpusat pada guru. Dengan model pembelajaran konvensional siswa kurang aktif dalam mengikuti pelajaran dan kurang diberi kesempatan untuk berdiskusi dalam menjawab suatu permasalahan sehingga kreatifitas siswa kurang berkembang karena tidak terbiasa untuk bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahan.
Banyak materi-materi natematika yang masih sulit dipahami oleh siswa. Rendahnya pemahaman siswa terhadap materi-materi matematika merupakan uatu masalah karena akan berdampak pada penguasaan pemahaman materi belajar siswa pada konsep-konsep selanjutnya. Diantara materi yang dianggap sulit oleh siswa di sekolah tersebut dan berpengaruh pada materi selanjutnya yang diperoleh pada observasi awal adalah Persamaan Linear Satu Variabel.
Dengan melihat fenomena tersebut, maka diperlukan solusi yang tepat dengan mengupayakan perbaikan proses pengajaran melalui model pembelajaran yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama antar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujun pembelajaran kooperatif adalah untuk membangkitkan interaksi yang efektif diantara anggota kelompok melalui diskusi. Interaksi yang efektif dimungkinkan semua anggota kelompok dapat menguasai materi pada tingkat yang relatife sejajar. Model pembelajaran kooperatif dapat melatih siswa untuk lebih berpikir dan bertindak secara mandiri ditengah kebersamaan melalui suatu kelompok kecil, sehingga siswa akan lebih mengenal satu sama lain dengan berbagai latar belakang yang berbeda, dengan demikian siswa akan terlatih untuk mengerjakan berbagai permasalahan.
Pembelajaran kooperatif dengan bermacam-macam pendekatan, guru dapat memilih pendekatan yang sesuai dengan tujun yang hendak dicapai. Pendekatan-pendekatan pada model pembelajaran kooperatif yaitu tipe STAD (Student Teams Achiefement Divisions), tipe jigsaw, tipe infestigasi kelompok dan tipe pendekatan structural. Namun dalam penelitian ini hanya menggunakan satu pendekatan yaitu pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Tipe ini dipilih oleh peneliti sebab memiliki cirri khas yaitu dnya kelompok asal dan kelompok ahli. Dengan adanya kelompok ahli peneliti berharap nantinya siswa yang kurang kemampuannya akan terpacu untuk mengikuti teman-temannya yang kemampuannya lebih tinggi sebab ia diberi kesempatan dan tanggung jawab untuk menguasai satu materi pelajaran, untuk kemudian dapat dijelaskan kepada teman-temannya dikelompok asal.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti mencoba mengadakan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Pokok Bahasan Persamaan Linear Satu Variabel Melalui Model Pembelajaran Koopertif Tipe Jigsaw Kelas VII1 MTsN Konda”. Siswa pada Pokok Bahasan Persamaan Linear Satu Variabel Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Kelas VII1 MTs Konda“.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Apakah hasil belajar matematika pada pokok bahasan Persamaan Linear Satu Variabel siswa kelas VII1 MTsN Konda dapat ditingkatkan melalui model Pemnelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw ?
C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka peneliti bertujuan “Meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII1 MTsN Konda pada pokok bahasan Persamaan Linear Satu Variabel melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw.




D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
1. Bagi guru : dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, guru dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran matematika dikelas , sehingga materi pembelajaran matematika yang dianggap sulit bagi siswa dapat dipahami dengan baik.
2. Bagi siswa: dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa khususnya pada pokok bahasan Persamaan Linear Satu Variabel .
3. Bagi sekolah : sebagai bahan masukan yang baik pada sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran matematika pada khususnya.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA


1. Pengertian Belajar
Pada hakekatnya belajar adalah sutu proses usaha sadar yang dilakukan secara terus menerus melalui bermacam macam aktifitas pengalaman untuk mencapai pengetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku yang menetap. Berikut dikemukakan pengertian belajar oleh para ahli. Perubahan sebagai hasil belajar dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pemahaman, perubahan pengetahuan, perubahan sikap dan tingkah laku, daya penerimaan dan lain-lain aspek yang ada pada inddividu siswa (Sudjana, 2000:28).
Belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehinigga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya (W. H. Burton dalam Usman 1993:4). Sunarto (2002: 7) mengemukakan bahwa belajar pada dasarnya merupakan proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Perubahan tingkah laku yang dmaksud meliputi perubahan pemahaman, pengetahuan, sikap, keterampilari, kebiasaan dan apresiasi. Seiangkan yang dimaksud dengan pengalaman dalam proses belajar adalah terjadinya intaraksi antara individu dengan lingkungannya. Belajar itu senantiasa merupakan perubahan tirgkah laku atau penampilan dengan serangkaiari kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan dan sebagainya (Syah, 2003: 20).
Dan beberapa pengertian belajar yang dikemukakan para ahli dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang mengakibatkan bertambahnya pengetahuan, keterampialan, nilai dan sikap yang diperoleh dari interaksi individu dengan lingkungannya dan perubahan terjadi bersifat relatif, konstan dan berbekas.
2. Pengertian Mengajar
Mengajar merupakan usaha pengorganisasian lingkungan sebagai penciptaan kondisi belajar bagi siswa, guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang serasi agar aktifitas belajar menuju kearah sasaran yang diinginkan (Hamalik, 2001:48). Sudjana (2000:29)mengemukakan bahwa pada hakikatnya mengajar adalah suatu proses, yakni proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat menimbulkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar.
Syah (2003: 25) mengemukakan bahwa mengajar sebagai suatu usaha menciptakan sistem lingkungan yang menunjang proses belajar. Sedangkan menurut Sardiman (2003: 3) mengajar adalah kegiatan menyediakan kondisi yang merangsang serta mengarahkan kegiatan belajar siswa/subyek belajar untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan tingkah laku serta kesadaran diii sebagai pribadi.
Dan pendapat beberapa ahli dapat dikatakan bahwa mengajar merupakan proses mengoiganisasi lingkungan di sekitar peserta didik agar tercipta lingkungan belajar yang kondusif serta meningkatkan terjadinya proses belajar untuk mencapai tujuan belajar yang optimal.
3. Proses Belajar Mengajar Matematika
Belajar mengajar matematika pada prinsipnya adalah usaha untuk mencari pegetahuan baru guna mengatasi masalah-masalah yang ada. Sama halnya dengan belajar secara umum, belajar matematika adalah belajar yang dilakukan secara sadar dan terencana dan didalamnya dibutuhkan suatu proses aktif individu agar dapat berpikir secara matematis yang berdasarkan aturan yang logis dan sistematis. Proses belajar matematika akan lebih optimal jika sesuai dengan kesiapan siswa untuk belajar. Simanjuntak (1993:65) mengemukakan bahwa keberhasilan proses belajar matematika tidak lepas dari persiapan peserta didik dan persiapan oleh tenaga pendidik sebidangnya dan bagi peserta didik yang sudah mempunyai minat (sikap) untuk belajar matematika akan merasa senang dan penuh perhatian mengikuti proses belajar tersebut.
Menurut Winataputra (1992:170) menyatakan bahwa balajar matematika akan lebih berhasil jika proses pengajarannya diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, di samping hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktur. Dengan demikian dalam mengajarkan suatu pokok bahasan tertentu mata palajaran matematika, guru harus mampu memilih pendekatan, strategi, metode dan model pembelajar yang sesuai dengan karakteristik pokok bahasan, agar tujuan pembelajaran tercapai secara baik.
Didalam proses belajar-mengajar untuk mata pelajaran matematika harus memperhatikan karakteristik matematika. Sumarmo (2002: 2) mengemukakan beberapa karakteristik matematika yaitu : materi matematika menekankan penalaran yang bersifat dedukti dan dalam mempelajani Thatematika dibutuhkan ketekunan, keuletan, serta rasa cinta teri-adap matematika. Karena matematika bersifat hierarkis dan terstruktur maka dalam belajar inatematika urutan materi harus dipei’hatikan, artinya perlu mendahulukan tentang konsep natematika yang mempunyai daya bantu terhadap konsep matematika yang lain.
Dari beberapa pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa mengajar matematika adalah proses untuk menanamkan pemahaman yang logis dan sistematis kepada siswa dengan menggunakan daya nalar yang tinggi serta mengaitkan antara konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang diajarkan.
4. Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar matematika tidak lain adalah hasil terakhir dari proses balajar matematika sebagai perwujudan segala upaya yang telah dilakukan selama proses itu berlangsung. Sementara itu, pencapaian hasil belajar lebih sering dikaitkan dengan nilai perolehan siswa setelah proses belajar mengajar dan evaluasi yang diberikan. Prestasi belajar yang diperoleh setelah terjadinya proses belajar merupakan bukti utama dari proses belajar.

Hasil belajar di sekolah adalah nialai perolehan siswa terhadap suatu pelajaran tertentu yang selanjutnya dikenal sebagai “prestasi belajar”. Sejalan dengan itu Nasution (1990:12) menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil belajar dari suatu individu tersebut berinteraksi secara aktif dan pasif dengan lingkungannya. Pendapat lain pula dikemukakan oleh Sukardi (1998:51) bahwa hasil belajar adalah suatu bukti keberhasilan usaha belajar yang dicapai dalam kurung waktu tertentu. Sedangkan dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:895) menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai dari hal yang telah dilakukan, dikerjakan dan lainnya, yang lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru.
Seorang siswa yang belajar matematika, akan berusaha untuk dapat memahami materi pelajaran matematika yang telah dipelajarinya. Keberhasilan yang dicapai siswa dalam menguasai materi pelajaran yang telah dipelajarinya disebut prestasi belajar matematika.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu tes matematika dan penilaiannya didasarkan pada standar tertentu.
5. Persamaan Linear Satu Variabel
Persamaan linear adalah kalimat terbuka yang memiliki hubungan sama dengan dan variabelnya berpangkat satu (M. Cholik, dkk, 2003:164). Menurut Sugijono (1998:88) kalimat terbuka adalah kalimat yang belum diketahui nilai kebenarannya (benar atau salah). Lanjut Sugijono (1999: 98) variabel atau peubah adalah lambang atau simbol yang terdapat pada kalimat terbuka yang dapat diganti oleh sebarang anggota dari Persamaan Linear Satu Variabel semesta, sehingga menjadi kalimat benar atau salah.
Persamaan linear satu variabel adalah persamaan yang terdiri dari satu variabel dan variabel tersebut berpangkat satu.
Contoh persamaan linear satu variabel :
a. 2x + 6 = 8
b. 2 - 3a = 5
c. 3t – 7 = 2t + 8
6. Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya : (1) saling ketergantungan positif; (2) interaksi tatap muka; (3) akuntabilitas individual; (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja dianjurkan (Abdurrahman & Bintoro, dalam Nurhadi, 2003:60).
Pembelajaran kooperatif menurut Johnson dalam Ismail (2002:12), adalah model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama, yakni kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai suatu pembelajaran. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan siswa.
Menurut Nur (2000), prinsip dalam pembelajaran kooperatif adalah :
1. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
2. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
3. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara kelompoknya.
4. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
6. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif menurut Hartadji (2001:34) antara lain: (1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai ; (2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah ; (3) Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, suku, dan budaya yang berbeda ; (4) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada masing-masing individu.




Terdapat enam langkah dalam model pembelajaran kooperatif :
Langkah Indikator Tingkah Laku Guru

Langkah 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa
Langkah 2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa
Langkah 3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. Guru menginformasikan pengelompokan siswa.
Langkah 4 Membimbing kelompok belajar. Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa dalam kelompok-kelompok belajar.
Langkah 5 Evaluasi. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Langkah 6 Memberikan penghargaan. Guru memberi penghargaan hasil belajar individual dan kelompok.
(www.ppp pembelajaran kooperatif.co.id:3)

6. Model Pembelajaran Tipe Jigsaw
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dikembangkan dan diujicoba oleh Elliot Arronson di Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-temanya di Universitas John Hopkins. Dalam penerapannya model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dengan 5 sampai 6 orang anggota kelompok yang heterogen. Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bahan tertentu, bahan yang diberikan itu. Anggota dari kelompok lain yang mendapat topik tugas yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli. Selanjutnya anggota dari kelompok tim ahli kembali ke kelompok asal dan mengajarkan apa yang telah dipelajarinya dikelompok ahli kepada teman kelompoknya (Ibrahim, 2000:21).
Tujuan teknik Jigsaw menurut Anam (2000:3) adalah sebagai berikut :
1. menyajikan metode alternatif disamping ceramah dan membaca
2. mengkaji kebergantungan positif dalam menyampaikan dan menerima informasi diantara anggota kelompok untuk mendorong kedewasaan berfikir
3. menyediakan kesempatan berlatih bicara dan mendengarkan untuk kognisi siswa dalam menyampaikan informasi.



Langkah-langkah teknik Jigsaw menurut Anam (2000:3) adalah sebagai berikut :
1. tahap kooperatif
pada tahap ini siswa ditempatkan dalam kelompok kecil dengan beranggotakan 5 siswa atau lebih. Kelompok ini disebut kelompok kooperatif dan menerima sebagain informasi atau bacaan dari satu paket informasi yang segera dibahas/dipecahkan dalam kelompok kooperatif tersebut.
2. tahap ahli
sebagai anggota yang mendapat tugas tertentu siswa mendapat tugas yang sama melakukan hal-hal sebagai berikut :
- belajar bersama dan menjadi ahli dalam bidang informasi (bacaan) yang menjadi tugas anda.
- memecahkan cara mengajarkan informasi (isi bacaan) yang telah dikuasai kedalam kelompok kooperatif.
3. Tahap lima serangkai
Pada tahap ini siswa kelompok ahli kembali kekelompok kooperatifnya (kelompok asal) dan mengajarkan informasi atau penyelesaian masalah yang telah dikuasai kepada anggota yang lain. Pada akhir tahap lima serangkai setiap kelompok menghasilkan pemecahan masalah yang merupakan hasil kelompok kooperatif (kelompok asal). Dengan sendirinya kualitas pemecahan masalah akan lebih baik karena dikerjakan bersama oleh para ahli bidangnya.

Bagan pembelajaran kooperati tipe Jigsaw
Kelompok Asal
5 atau 6 anggota yang heterogen dikelompokkan




(Tiap kelompok memiliki satu anggota dari tiap tim asal)
(Ibrahim dkk, 2000:20)

7. Kerangka Berfikir
Proses belajar seorang siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Agar prestasi belajar yang baik tercapai maka harus diupayakan seluruh faktor yang ada dapat mendukung proses belajar seorang siswa. Demikian pula halnya dengan proses belajar matematika.
Penggunaan model pembelajaran yang dapat membangkitkan minat dan kreatifitas belajar matematika sangat penting sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang secara prosedural dirancang untuk membangkitkan minat dan kreatifitas siswa. Model pembelajaran kooperatif yang mengutamakan kerja sama antara siswa dalam kelompok-kelompok kecil dalam mempelajari materi pelajaran melalui diskusi memungkinkan siswa mempunyai kesempatan yang luas untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pemantauan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan kelompok memungkinkan guru dapat mengetahui siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran dan guru dapat memberikan bimbingan secara langsung kepada siswa tersebut, dengan demikian akan jarang ditemukan siswa-siswa yang tidak memahami materi pelajaran ketika materi pelajaran disajikan.
Khususnya untuk model pembelajaran tipe Jigsaw, siswa diberikan beban dan tanggung jawab untuk menguasai bagian tertentu dari materi pelajaran yang selanjutnya diajarkan kembali kepada teman dalam kelompoknya akan membuat siswa lebih termotivasi untuk memahami materi pelajaran.
8. Hasil Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah:
1. penelitian yang dilakukan oleh Nuryadi (2004), menyimpulkan bahwa hasil belajar matematika kelas 1 SMP Negeri 1 Kendari tahun pelajaran 2003/2004 yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran tipe Jigsaw lebih efektif dari pada diajar metode konvensional yang dilihat dari rata-rata belajarnya.
2. penelitian yang dilakukan oleh Susilayanti (2006), menyimpulkan bahwa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw prestasi belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 9 kendari pada Pokok Bahasan Persamaan Garis Lurus dapat ditingkatkan.
Dengan demikian penggunaan model pembelajaran kooperatif, khususnya tipe Jigsaw memungkinkan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.

9. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: ”Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw prestasi belajar matemaika pada pokok bahasan Persamaan Linier Satu Variabel pada siswa kelas VII1 MTsN Konda dapat ditingkatkan.











BAB III
METODE PENELITIAN

1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas, karakteristik yang khas dari penelitian tindakan kelas ini adalah adanya tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
2. Setting Penelitian
Penelitian direncanakan akan diadakan di kelas VII1 MTsN Konda pada semester ganjil tahun 2009/2010, dengan jumlah siswa 40 orang.
3. Faktor yang di selidiki
a. Faktor siswa : melihat kemampuan siswa dalam mempelajari matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan Persamaan Linear dengan Satu Variabel.
b. Faktor guru : melihat bagaimana materi pelajaran dipersiapkan dan bagaimana teknik yang digunakan oleh guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam mengajarkan matematika pada pokok bahasan Persamaan Linear Satu Variabel.
c. Faktor sumber pelajaran : melihat apakah sumber pelajaran dapat mendukung model pembelajaran yang diterapkan.


4. Rencana Tindakan
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari tiga siklus dengan tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang diselidiki.
Setiap siklus dalam penelitian ini mengikuti prosedur penelitian berikut : (1) perencanaan ; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi dan evaluasi; (4) refleksi.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dijabarkan sebagai berikut :
1. perencanaan : adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi :
a. membuat skenario pembelajaran
b. menyiapkan LKS untuk membantu siswa dalam memahami materi yang diajarkan
c. membuat observasi untuk siswa dan guru guna melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diterapkan.
d. Membuat alat evaluasi untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa dapat ditingkatkan.
e. Membuat jurnal untuk refleksi diri
2. pelaksanaan tindakan : kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dibuat yaitu :
a. Pendahuluan
- menyampaikan tujuan pembelajaran
- menjelaskan model pembelajaran yang akan dilaksanakan
b. Kegiatan inti
- memberi materi pengantar tentang persamaan linear satu variabel
- menetapkan siswa secara berkelompok sesuai model pembelajaran yang akan digunakan.
- Mengajukan soal-soal (LKS).
- Menyuruh siswa berdiskusi dalam kelompok ahli.
- Memantau dan mengarahkan siswa yang mengalami kesulitan
- Menyuruh siswa kembali ke kelompok asalnya.
- Meminta beberapa kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya
c. Penutup
- Membimbing siswa untuk merangkum materi pelajaran
- Memberikan PR kepada siswa
3. Observasi dan evaluasi : pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan kelas serta melakukan evaluasi.
4. Refleksi : pada tahap ini, hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi sebelumnya dikumpulkan dan dianalisis. Jika belum memenuhi indikator keberhasilan, maka penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya dan kelemahan/kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya dituliskan pada jurnal untuk diperbaiki pada siklus berikutnya.


5. Data dan Teknik Pengambilan Data
1. sumber data : guru dan siswa
2. Jenis data : yaitu berupa data kuantitatif yaitu diperoleh dari tes prestasi belajar dan data kualitatif diperoleh dari lembar observasi dan jurnal.
3. Tehnik pengambilan data :
a. Data mengenai proses pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diambil dengan menggunakan lembar observasi.
b. Data mengenai prestasi belajar matematika diambil dengan menggunakan test.
c. Data mengenai refleksi diri diambil dengan menggunakan jurnal.
6. Indikator Kerja
Sebagai indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah minimal 75% siswa telah mengalami ketuntasan belajar secara perorangan. Sedang siswa dikatakan telah mengalami ketuntasan belajar secara perorangan apabila siswa tersebut telah memperoleh nilai minimal 6,0. Dari segi proses, tindakan dikatakan berhasil apabila minimal 85% proses pelaksanaan tindakan sesuai dengan skenario pembelajaran.





Skema Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)











(Anonim, 1999: 27)









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Kegiatan Pendahuluan
Pelaksanaan penelitian diawali dengan kegiatan observasi awal dan kegiatan wawancara dengan guru bidang studi matematika kelas VII1 MTs Negeri 1 Konda pada tanggal 31 Agustus 2009. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara tersebut yakni salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya prestasi belajar siswa disebabkan oleh model pembelajaran yuang digunakan oleh guru yang masih menggunakan model pembelajaran konvesisonal sehingga untuk mengatasi hal tersebut, maka diputuskan untuk menerapkan model pembelajaran model kooperatif tipe Jigsaw dalam mengajarkan matematika pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel pada kelas VII1 MTs Negeri 1 Konda.






DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III. Jakarta : Balai Pustaka
Anam, khoirul. 2000 koo p. Implementasi eratif learning adaptasi model jigsaw dan field study. Jakarta : Dirjen Dinasmen.
Hamalik, oemar. 2001. Pelaksanaan pengajaran berdasarkan pendekatan sistem. Jakarta :Bumi Aksara.
Hartaji,mirsyafei. 2001. Pengembangan dan uji coba perangkat kontekstual teaching and learning. Jakarta : depdiknas
Ibrahim,muslimin dkk. 2000. Pengembangan kooperatif. Surabay : universitas press.
Ismail. 2002. Model-model pembelajaran. Jakarta depdiknas.
m. cholik,A dkk. 2000. Matematika untuk SMP Kelas VII. Jakarta : erlangga
nasution,A.H. 1990. Landasan matematika. Jakarta : bharata karya aksara.
Nur,muhamad. 2000. Pemebelajaran kooperatif unruk kelas ipa. Surabaya : UNESA.
Nurhadi. 2003. Pembekajaran kontekstual (contextual Teaching and learning/CTL) dan penerapannya dalam KBK. Malang : Universitas Negeri Malang.
Sardiman. 2003. Interaksi dan motifasi belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Simanjuntak. 1993. Metode mengajar matematika jilid I. Jakarta : Rineka Cipta.
Sudjana,nana. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Sugijono. 1999. Seribu pena matematika SLTP Kelas I. Jakarta : Erlangga.
Sukardi. 1998. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta : CV Rajawali.
Sumarno,Utari. 2002. Alternatif pembelajaran matematika dan implementasi kurikulum berbasis kompetensi. Bandung : FMIPA-UPI.
Sunarto,sunaryo. 2002. Inetraksi pengajaran dan pengelolaan kelas. Jakarta : Dirjen Diknasmen Depdiknas.
Syah,muhibbin. 2003. Psikologi belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
www. Ppp. Pembelajaran kooperatif.co.id.11 september 2009. 14:12 PM




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar