Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 29 Mei 2010

Efektivitas Model Pembelajaran Advance Organizer Pada Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga Di Kelas X SMA Negeri 2 Kendari

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dipelajari siswa di jenjang pendidikan formal mulai dari tingkat SD sampai pada SMA bahkan pada perguruan tinggi tidak terlepas dari matematika. Hal ini menunjukkan bahwa matematika memegang peranan yang penting dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia.
Pembelajaran matematika diharapkan berakhir dengan sebuah pemahaman siswa yang komprehensif dan holistik tentang materi yang disajikan. Pemahaman siswa yang dimaksud tidak sekedar memenuhi tuntutan tujuan pembelajaran matematika secara substantif saja, namun diharapkan muncul ‘efek iringan‘ dari pembelajaran tersebut (http://one.indoskripsi.com/). Efek iringan yang dimaksud antara lain adalah : (1) Lebih memahami keterkaitan antara satu topik matematika dengan topik matematika yang lainnya, (2) Lebih menyadari akan penting dan strategisnya matematika bagi bidang lain, (3) Lebih memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia, (4) Lebih mampu berfikir logis, kritis, dan sistematis, (5) Lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi pemecahan sebuah masalah, dan (6) Lebih peduli pada lingkungan sekitarnya.


A. LATAR BELAKANG
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dipelajari siswa di jenjang pendidikan formal mulai dari tingkat SD sampai pada SMA bahkan pada perguruan tinggi tidak terlepas dari matematika. Hal ini menunjukkan bahwa matematika memegang peranan yang penting dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia.
Pembelajaran matematika diharapkan berakhir dengan sebuah pemahaman siswa yang komprehensif dan holistik tentang materi yang disajikan. Pemahaman siswa yang dimaksud tidak sekedar memenuhi tuntutan tujuan pembelajaran matematika secara substantif saja, namun diharapkan muncul ‘efek iringan‘ dari pembelajaran tersebut (http://one.indoskripsi.com/). Efek iringan yang dimaksud antara lain adalah : (1) Lebih memahami keterkaitan antara satu topik matematika dengan topik matematika yang lainnya, (2) Lebih menyadari akan penting dan strategisnya matematika bagi bidang lain, (3) Lebih memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia, (4) Lebih mampu berfikir logis, kritis, dan sistematis, (5) Lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi pemecahan sebuah masalah, dan (6) Lebih peduli pada lingkungan sekitarnya.
Ketercapaian dua sasaran pembelajaran matematika secara substantif dan efek iringannya akan tercapai manakala siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk belajar matematika secara komprehensif dan holistik. Dengan demikian, dalam proses belajar mengajar matematika kegiataan pengajaran perlu diubah menjadi kegiatan pembelajaran. Teknik mengajar yang baik harus diganti dengan teknik belajar yang baik dimana titik berat pemberian materi pelajaran harus digeser menjadi pemberian kemampuan yang relevan dengan kebutuhan siswa untuk belajar.
Kendatipun antara kata pengajaran dengan pembelajaran bermakna hampir sama, namun esensinya berbeda. Dalam pengajaran matematika, guru lebih banyak menyampaikan sejumlah ide atau gagasan-gagasan matematika. Sementara dalam pembelajaran matematika siswa mendapat porsi lebih banyak daripada guru, bahkan mereka ‘harus‘ dominan dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan pembelajaran, siswa berperan aktif sebagai pembelajar dan fungsi guru lebih pada sebagai fasilitator dan dinamisator.
Kenyataan menunjukkan bahwa rendahnya hasil belajar siswa SMP yang dicerminkan melalui NEM merupakan tantangan serius bagi dunia pendidikan dan semua pihak yang berkecimpung dalam pendidikan matematika. Khususnya, guru perlu mencari model pembelajaran yang bisa membuat siswa dapat menyerap, mencerna, dan mengingat bahan pelajaran dengan baik sehingga siswa dapat menjelaskan kembali materi tersebut.
Penggunaan model mengajar yang tidak sesuai dengan materi yang diajarkan cenderung menghasilkan prestasi belajar siswa kurang optimal, seperti yang dialami siswa SMAN 2 Kendari. Berdasarkan observasi langsung di lapangan pada tanggal 16 Oktober 2008 diperoleh data berupa prestasi belajar matematika siswa Kelas X SMAN 2 Kendari pada semester 1 tahun ajaran 2007/2008 sebesar 5,57 yang belum mencapai standar minimal yaitu 6,00.
Penyebab rendahnya hasil belajar siswa adalah bahwa perencanaan dan implementasi pembelajaran yang dilakukan oleh para guru matematika tampaknya masih dilandasi dengan metode transfer informasi. Kondisi pembelajaran matematika seperti ini akan menimbulkan kebosanan bagi siswa, siswa tidak dapat melihat hubungan antar materi pelajaran yang telah dipelajari dengan materi berikutnya, ini diperparah dengan sikap guru yang tidak pernah mengingatkan kembali siswa tentang hal tersebut dan terus melanjutkan materi tanpa mamperhatikan apakah siswa pada umumnya telah memahami materi yang diberikan sehingga pelajaran matematika menjadi tidak menarik, tidak disenangi, dan dengan sendirinya pelajaran matematika akan terasa sangat sulit. Dengan demikian sebagai konsekuensinya, hasil belajar yang dicapai siswa belum sesuai dengan harapan.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan mencoba menerapkan Model Pembelajaran Advance Organizer, dimana materi yang telah dipelajari siswa dapat dimanfaatkan dan dijadikan sebagai titik tolak dalam mengkomunikasikan informasi atau ide baru dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa dapat melihat keterkaitan antara materi pelajaran yang telah dipelajari dengan informasi atau ide baru. Dengan demikian diharapkan siswa dapat meningkatkan pemahaman mereka mengenai suatu materi tertentu sehingga hasil belajar matematika akan meningkat.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa perlu untuk mengkaji ” Efektivitas Model Pembelajaran Advance Organizer Pada Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga di Kelas X SMAN 2 Kendari”.
B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana gambaran hasil belajar matematika siswa kelas X SMAN 2 Kendari pada kelas eksperimen melalui nilai Pre-Test dan Post-Test pada Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga?
2. Bagaimana gambaran hasil belajar matematika siswa kelas X SMAN 2 Kendari pada kelas kontrol melalui nilai Pre-Test dan Post-Test pada Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga?
3. Apakah penerapan model pembelajaran advance organizer efektif dalam pembelajaran matematika pada Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga pada siswa kelas X SMAN 2 Kendari?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk memperoleh gambaran hasil belajar matematika siswa kelas X SMAN 2 Kendari pada kelas eksperimen melalui nilai Pre-Test dan Post-Test pada Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga.
2. Untuk memperoleh gambaran hasil belajar matematika siswa kelas X SMAN 2 Kendari pada kelas kontrol melalui nilai Pre-test dan Post-Test pada Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga.
3. Mengetahui Efektivitas penerapan model pembelajaran advance organizer dalam pembelajaran matematika pada Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga pada siswa kelas X SMAN 2 Kendari.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi sekolah
Sebagai bahan masukan bagi sekolah yang dijadikan objek penelitian ini dalam upaya peningkatan mutu dan kemampuan siswa dalam bidang studi matematika.
2. Bagi guru
Memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, sehingga pada pembelajaran berikutnya guru dapat memilih model atau metode mengajar yang lebih tepat.
3. Bagi siswa
Membantu dan mempermudah siswa dalam memahami materi-materi matematika, serta lebih memahami keterkaitan antara satu topik matematika dengan topik matematika yang lainnya.


4. Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya yang mengangkat topik penelitian yang relevan dengan penelitian ini.
5. Bagi penulis
Agar peneliti siap menjadi guru yang profesional dan inovatif dalam mengajarkan matematika dikemudian hari.
E. KAJIAN PUSTAKA
1. Prestasi Belajar Matematika
Prestasi belajar merupakan suatu indikator dari perubahan yang terjadi pada diri siswa setelah mengalami proses belajar. Untuk mengungkapkan prestasi belajar siswa ini, maka digunakan satu alat penilaian yang disebut tes prestasi belajar. Prestasi belajar merupakan suatu ukuran keberhasilan siswa setelah mengalami proses belajar. Menurut Nasution (1990:21) prestasi belajar adalah hasil belajar dari suatu individu tersebut berinteraksi secara aktif dan positif dengan lingkungannya. Selanjutnya Sukardi (1998:51) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan usaha belajar yang dicapai dalam kurun waktu tertentu.
Pendapat lain terhadap prestasi belajar dikemukakan oleh Winkel (1987:17) yang menyatakan bahwa prestasi belajar merupakan suatu kemampuan internal yang telah menjadi milik pribadi seseorang dan kemungkinan orang itu melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Prestasi belajar menurut Poerwadarminta (2006:910) adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dilakukan atau dikerjakan. Seorang siswa yang belajar matematika, berarti bahwa siswa tersebut telah melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan, yaitu belajar matematika dan hasil dari pekerjaan itu disebut prestasi belajar matematika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa untuk mencapai suatu prestasi harus melalui proses yang dikenal dengan proses belajar.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika adalah tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai bahan pelajaran matematika setelah memperoleh pengalaman belajar matematika dalam suatu waktu tertentu.
2. Efektivitas Pembelajaran
Efektivitas pembelajaran berarti tingkat keberhasilan. Untuk menyatakan suatu proses belajar-mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan yang berbeda-beda sejalan dengan filosofisnya. Namun, untuk menyamakan persepsi menurut Usman (1993:7) sebaiknya berpedoman pada kurikulum yang berlaku yang telah disempurnakan antara lain bahwa suatu proses belajar dan suatu bahan pengajaran dinyatakan efektif apabila Tujuan Intruksional Khusus (TIK) tercapai.
Menurut Popham (2003:7) Efektivitas pengajaran seharusnya ditinjau dari hubungan guru tertentu yang mengajar kelompok siswa tertentu, di dalam situasi tertentu dalam usahanya mencapai tujuan-tujuan instruksional tertentu.
Dunne (1996:12) berpendapat bahwa Efektivitas pembelajaran memiliki dua karakteristik. Karakteristik pertama ialah ”memudahkan murid belajar” sesuatu yang ”bermanfaat”, seperti fakta keterampilan, nilai, konsep dan bagaimana hidup serasi dengan sesama, atau sesuatu hasil belajar yang diinginkan. Karakteristik kedua, bahwa keterampilan diakui oleh mereka yang berkompeten menilai, seperti guru-guru, pelatih guru-guru, pengawas, tutor dan pemandu mata pelajaran atau murid-murid sendiri.
Selanjutnya konsep keefektifan pengajaran dikaitkan dengan peranan guru sebagai pengelola proses belajar-mengajar, bertindak selaku fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi belajar-mengajar yang efektif sehingga memungkinkan proses belajar-mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai (Usman, 2000:21).
Definisi Efektivitas dalam www.smpn1bantul.net dikatakan bahwa Efektivitas adalah ukuran yang menyatakan sejauh mana tujuan (kualitas, kuantitas dan waktu) telah tercapai. Dalam bentuk persamaan, Efektivitas sama dengan hasil nyata sebagai hasil yang diharapkan.
Berdasarkan pendapat di atas, maka sehubungan dengan penelitian ini, pembelajaran Advance Organizer dikatakan efektif apabila rata-rata hasil belajar siswa pada Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga setelah diajar dengan model pembelajaran Advance Organizer lebih tinggi dari pada rata-rata hasil belajar siswa pada Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.
3. Pembelajaran advance organizer
a. Pengertian
Model pembelajaran advance organizer merupakan suatu cara belajar untuk memperoleh pengetahuan baru yang dikaitkan dengan pengetahuan yang telah ada pada pembelajaran, artinya setiap pengetahuan mempunyai struktur konsep tertentu yang membentuk kerangka dari system pemprosesan informasi yang dikembangkan dalam pengetahuan (ilmu) itu. Metode ini dikembangkan oleh David Ausubal dan menurut beliau model ini adalah model belajar bermakna.
b. Tujuan
Model pembelajaran advance organizer bertujuan untuk memperkuat struktur kognitif siswa dan menambah daya ingat (retensi) siswa terhadap informasi yang bersifat baru.
c. Teknik Pelaksanaan
Pertama-tama guru menyajikan kerangka konsep yang umum dan menyeluruh untuk kemudian dilanjutkan dengan peryataan informasi yang lebih spesifik. Kerangka umum (organizer) tersebut berfungsi sebagai penyusun yang mengorganisasikan semua informasi selanjutnya yang akan diasimilasikan oleh siswa, sehingga siswa dapat menjelaskan mengintegrasikan dan menghubungkan materi dengan materi yang telah dimiliki sebelumnya.
d. Langkah-Langkah
Adapun langkah-langkah dalam Model pembelajaran advance organizer terdiri dari tiga fase yang saling berkaitan yaitu:
1) Penyajian advance organizer
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam fase ini adalah sebagai berikut:
a. Mengklarifikasikan tujuan pengajaran
Dalam hal ini dimaksudkan untuk membangun perhatian peserta didik dan menuntun mereka pada tujuan pembelajaran dimana keduanya merupakan hal penting untuk membantu terciptanya belajar bermakna.
b. Menyajikan organizer
Penyajian kerangka konsep yang umum dan menyeluruh untuk kemudian dilanjutkan dengan penyajian informasi yang lebih spesifik. Gambaran konsep/proposisi yang utama harus dikemukakan secara jelas dan hati-hati sehingga siswa mau melakukan eksplorasi baik berupa tanggapan maupun mengajukan contoh-contoh.
Advance organizer merupakan pernyataan umum yang memeperkenalkan bagian-bagian utama yang tercakup dalam urutan pengajaran. Advance organizer berfungsi untuk menghubungakan gagasan yang disajikan di dalam pelajaran dengan informasi yang telah berada didalam pikiran siswa, dan memberikan skema organisasional terhadap informasi yang sangat spesifik yang disajikan.
c. Memancing dan mendorong pengetahuan dan pengalaman dari siswa.
Pada bagian ini peran aktif siswa tampak dalam bentuk memberikan respon terhadap presentasi organisasi yang diberikan guru.
2) Penyajian bahan pelajaran
Fase kedua ini dapat dikembangkan dalam bentuk diskusi, ekspositori, atau siswa memperhatikan gambar-gambar, melakukan percobaan atau membaca teks, yang masing-masing diarahkan pada tujuan pengajaran yang ditunjukan pada langkah pertama, pengembangan sistem hirarki dalam PBM dapat dilaksanakan dengan cara:
a. Diferensiasi progesif
Suatu proses mengarahkan masalah pokok menjadi bagian-bagian yang lebih rinci dan khusus. Guru dalam mengajarkan konsep-konsep dari yang paling ingklusif kemudian konsep yang kurang ingklusif setelah itu baru yang khusus seperti contoh-contoh.
b. Rekonsiliasi integrative
Pengetahuan baru yang harus dihubungkan dengan isi materi pelajaran sebelumnya. Penyusunan ini berguna untuk mengatasi atau mengurangi pertentangan kognitif

3) Penguatan Organisasi Kognitif
Tujuan fase ketiga ini mengaitkan materi belajar yang baru dengan struktur kognitif siswa. Ausubel mengidentifikasikan menjadi empat aktifitas, yaitu:
a. Menggunakan prinsip-prinsip rekonsiliasi intergratif.
Aktivitas ini mempertemukan materi belajar yang baru dengan struktur kognitif siswa. Dapat dikembangkan oleh guru melalui:
- Mengingatkan siswa tentang gambaran menyeluruh gagasan/ide.
- Menanyakan ringkasan dari atribut materi pelajaran yang baru.
- Mengulangi defenisi secara tepat.
- Menanyakan perbedaan aspek-aspek yang terdapat dalam materi.
- Menanyakan bagaimana materi pelajaran mendukung konsep atau preposisi yang baru digunakan.
b. Meningkatkan kegiatan belajar (belajar menerima)
Dapat dilakukan dengan cara:
- Siswa menggambarkan materi baru dengan menghubungkannya melalui salah satu aspek pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
- Siswa memberi contoh-contoh terhadap konsep yang berhubungan dengan materi.
- Siswa menceritakan kembali dengan menggunakan kerangka referensi yang dimiliki.
- Siswa menghubungkan materi dengan pengalaman atau pengetahuan yang dimilikinya.
c. Meningkatkan pendekatan kritis tentang bahasan pokok.
Dilakukan dengan menanyakan kepada siswa tentang asumsi atau pendapatnya yang berhubungan dengan materi pelajaran. Guru memberikan pertibangan dan tentangan tehadap pendapat tersebut dan meyatukan kontradiksi apabila terjadi silang pendapat.
d. Mengklarifkasikan
Guru dapat melakukan klarifikasi dengan cara memberi tambahan informasi baru atau mengaplikasikan gagasan ke dalam situasi baru atau contoh lain (http://aryes-hidayat.blogspot.com/).
Dari uraian diatas jelaslah bahwa melalui model pembelajaran Advanced Organizer, siswa dapat melihat hubungan antara materi pelajaran yang telah dipelajari dengan materi berikutnya sehingga menjadikan pelajaran matematika merupakan pelajaran yang menarik dan disenangi oleh siswa. Akibatnya hasil belajar siswa akan tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
4. Hasil Penelitian yang Relevan
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh OKTAVIYANTO menyimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Advance Organizer dengan Peta Konsep dalam mengajarkan pokok bahasan Persamaan dan Pertidaksamaan Kuadrat pada siswa kelas X SMA Negeri I Kalisat hasil belajar matematika siswa dapat meningkat.
5. Kerangka Berpikir
Dalam pembelajaran matematika, salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam mengajarkan suatu pokok bahasan adalah pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu model untuk memperkuat struktur kognitif siswa dan menambah daya ingat (retensi) siswa terhadap informasi yang bersifat baru adalah model pembelajaran Advance Organizer. Model Pembelajaran Advance Organizer adalah suatu model dimana siswa dapat melihat keterkaitan antara materi pelajaran yang telah dipelajari dengan informasi atau ide baru. Dalam model ini, siswa dituntut untuk dapat menguasai materi pelajaran secara tuntas agar hasil yang diperoleh siswa dapat bermanfaat.
6. Tinjauan Kurikulum Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga
Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sub pokok bahasan Rumus-rumus segitiga, diajarkan pada kelas X semester 2 terdiri atas dua sub pokok bahasan yaitu:
- Aturan sinus dan aturan kosinus.
- Rumus luas segitiga.
a. Standar Kompetensi
Menggunakan perbandingan, fungsi, persamaan, dan identitas trigonometri dalam pemecahan masalah.
b. Kompetensi Dasar
Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan perbandingan, fungsi, persamaan dan identitas trigonometri
c. Indikator
- Menyelesaikan perhitungan soal menggunakan aturan sinus dan aturan cosinus.
- Menghitung luas segitiga yang komponennya diketahui.
7. Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang akan diuji kebenarannya dalam penelitian ini adalah “Model Pembelajaran Advance Organizer lebih efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika pada Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga”. Secara statistik hipotesis tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan : 1 = Rata-rata prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan Model Pembelajaran Advance Organizer.
2 = Rata-rata prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan Model pembelajaran konvensional.




F. METODE PENELITIAN
1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dimulai dari 16 Oktober 2008 sampai selesai. Pengambilan data dilaksanakan pada semester 2 tahun ajaran 2008/2009 pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Kendari.
2. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 2 Kendari tahun ajaran 2008/2009 semester 2 yang terdiri dari 10 kelas paralel.
Berdasarkan informasi dari kepala sekolah dan guru matematika di SMA Negeri 2 Kendari bahwa distribusi siswa perkelas secara merata tidak berdasarkan ranking kelas, maka peneliti mengambil 2 kelas dari 10 kelas paralel tersebut yang akan dijadikan sebagai sampel kelas eksperimen dan kelas kontrol, yang mana pengambilan sampel tersebut dilakukan dengan teknik purposive sampling.
3. Variabel, Definisi Operasional dan Desain Penelitian
a. Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Varibel Independen (bebas) yaitu pembelajaran matematika Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga dengan penerapan model pembelajaran Advance organizer.
2) Variabel dependen (terikat) yaitu hasil belajar siswa
b. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan varibel-variabel dalam penelitian ini, maka perlu diberikan definisi operasional sebagai berikut:
1) Model advance organizer diartikan sebagai suatu model pembelajaran yang pada prinsipnya siswa dapat menyerap, mencerna, dan mengingat bahan pelajaran dengan baik dalam kegiatannya siswa dapat menjelaskan kembali materi tersebut.
2) Hasil belajar adalah hasil evaluasi siswa setelah pembelajaran yang ditandai dengan kemampuan siswa dalam hal memberikan jawaban benar terhadap soal-soal matematika yang diberikan.

c. Desain Penelitian
Desain penelitian dari kedua variabel tersebut adalah sebagai berikut:
Kelas Pre tes Perlakuan Post tes
Eksperimen Y01 X1 Y11
Kontrol Y02 X2 Y12

Keterangan:
Y01¬¬ = hasil tes awal siswa sebelum perlakuan pada kelas eksperimen
Y02 = hasil tes awal siswa sebelum perlakuan pada kelas kontrol
X1 = pembelajaran matematika dengan model Advance Organizer
X2 = pembelajaran matematika dengan pendekatan konvensional
Y11 = hasil tes prestasi belajar setelah perlakuan pada kelas eksperimen
Y11 = hasil tes prestasi belajar setelah perlakuan pada kelas kontrol
Arikunto, (2002:79).
4. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah seperangkat tes hasil belajar berupa tes tertulis yang berbentuk esay. Peneliti menyusun 10 item tes Sub Pokok Bahasan Rumus-Rumus Segitiga yang akan digunakan untuk mengukur kemampuan siswa setelah diberikan perlakuan, baik pada kelas eksperimen maupun pada kelas kontrol.
Setiap item mempunyai skor 10 sehingga skor maksimum yang dicapai oleh siswa adalah 100. Tes disusun oleh peneliti bekerjasama dengan guru kelas X SMA Negeri 2 Kendari, lalu dikonsultasikan dengan pembimbing.
Sebelum tes digunakan terlebih dahulu tes tersebut diujicobakan pada salah satu kelas X, yaitu untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya.
Untuk mengetahui validitas setiap butir soal/item maka digunakan rumus:
(Arikunto, 2002:72)
Di mana : X = Skor item
Y = Skor total
N = Jumlah subjek
rXY = Koefisien korelasi antara variabel X dan Y
Dengan kriteria pengujian pada taraf signifikan  = 0,05:
(valid)
(tidak valid)
Kemudian untuk mengetahui reliabilitas tes maka dilakukan uji reliabitas tes dengan menggunakan rumus Alpha yaitu:
(Arikunto, 2002:109)
Di mana : r11 = Reliabilitas soal yang akan dicari
= Varians skor total
∑ = Jumlah Varians skor tiap-tiap item
n = Banyaknya soal
Untuk menginterpretasikan tingkat reliabilitas tes digunakan kriteria sebagai berikut:
Tingkat reliabilitas tes sangat rendah
Tingkat reliabilitas tes rendah
Tingkat reliabilitas tes sedang
Tingkat reliabilitas tes tinggi
Tingkat reliabilitas tes sangat tinggi (Arikunto, 2002:75)

5. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini digunakan teknik pemberian tes. Tes diberikan setelah selesai kedua kelompok (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol) diberikan pembelajaran. Soal-soal yang diberikan pada kedua kelompok (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol) adalah sama.
6. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan dua macam statistik yaitu statisitik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan data penelitian yang berupa perolehan skor rata-rata, median, nilai maksimum, nilai minimum dan standar deviasi. Sedangkan statistik inferensial digunakan untuk pengujian hipotesis penelitian dengan menggunakan uji-t, dengan prosedur sebagai berikut:
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Untuk keperluan ini maka statistik yang digunakan adalah statistik Chi-Kuadrat dengan rumus:
(Sudjana, 1992:273)
Di mana : = Frekuensi pengamatan untuk interval ke-i (i = 1, 2, 3, ....., k)
Ei = Frekuensi harapan untuk interval ke-i (i = 1, 2, 3, ....., k)
k = banyaknya kelas
= Nilai Chi-kuadrat hitung
Kriteria pengujian adalah bahwa jika pada taraf signifikan  = 0,05 dan dk = (k – 1), maka asumsi kenormalan diterima dan sebaliknya jika maka asumsi kenormalan ditolak.
b. Uji Homogenitas Varians
Untuk mengetahui apakah data yang diperoleh mempunyai varians populasi yang sama atau tidak, maka dilakukan uji homogenitas varians dengan menggunakan rumus:
(Sudjana, 1992:250)
Pengujian dilakukan pada α = 0,05 dengan kriteria pengujian adalah:
Tolak H0 hanya jika Fhit  Ftab artinya varians kedua kelompok tidak homogen. Untuk harga F lainnya H0 diterima. Dan formulasi hipotesisnya:


c. Pengujian Hipotesis
Setelah dilakukan uji homogenitas data prestasi belajar matematika kelompok yaitu kelas eksperimen yang diajar dengan menggunakan Model pembelajaran Advance Organizer dan kelas kontrol yang diajar dengan menggunakan Model pembelajaran konvensional.
Jika variansnya homogen maka rumus uji-t yang digunakan adalah sebagai berikut:
(Sudjana, 1992:239)
Keterangan: thit = Nilai hitung untuk uji t
= rata-rata skor responden kelas eksperimen
= rata-rata skor responden kelas kontrol
n1 = jumlah responden kelas eksperimen
n¬2 = jumlah responden kelas kontrol
S = simpangan baku gabungan
Untuk mendapatkan nilai simpangan baku gabungan digunakan rumus:
(Sudjana, 1992:239)
Keterangan:
S = simpangan baku
= Varians kelas yang diajar dengan Model pembelajaran Advance Organizer
= Varians kelas yang diajar dengan menggunakan Model pembelajaran konvensional
n1 = Jumlah responden kelas eksperimen
n2 = Jumlah responden kelas kontrol
Kriteria pengujian:
Terima H0 jika untuk harga-harga t lainnya H0 ditolak.
Jika varians tidak homogen uji-t yang digunakan adalah sebagai berikut:
(Sudjana, 1992:241)
Keterangan:
= Nilai hitung untuk uji-t
= rata-rata skor responden kelas eksperimen
= rata-rata skor responden kelas kontrol
n1 = jumlah responden kelas eksperimen
n¬2 = jumlah responden kelas kontrol
= Varians kelas yang diajar dengan menggunakan Model pembelajaran Advance Organizer.
= Varians kelas yang diajar dengan menggunakan Model pembelajaran konvensional
Kriteria pengujian: tolak H0 jika dengan
dan
dan pada taraf signifikan  = 0,05, selain itu H0 diterima.
Jika data tidak normal maka dilakukan uji U
Untuk sampel pertama dengan pengamatan dengan rumus:
(Supranto, 2001:304)
Untuk sampel kedua dengan pengamatan dengan rumus:
(Supranto, 2001:304)
Keterangan:
= nilai hitung untuk uji U
= banyaknya responden dalam kelas eksperimen
= banyaknya responden dalam kelas kontrol
= jumlah nilai yang diperoleh responden dalam kelas eksperimen
= jumlah nilai yang diperoleh responden dalam kelas kontrol
Kriteria pengambilan keputusan adalah:
diterima apabila
ditolak apabila

DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara..

Dunne, Richard. 1996. Pembelajaran Efektif (Terjemahan). Jakarta: Grasindo.

http : //www.bpgupg.go.id. (Diakses pada tanggal 7 November 2008).
Octav. (20 Februari 2008). Proposal Skripsi. Diakses (9 Desember 2008) dari Http://www.One.Indoskripsi.Com/.

Http://www.smpn 1 bantul.net. (Diakses pada tanggal 9 Desember 2008).

Hidayat, Nurul. (3 Januari 2008). Advence organizer. Diakses 14 Desember 2008 dari http://aryes-hidayat.blogspot.com/2008/01/model-pembelajaran-advence-organizer.html.

Kanginan, Marthen. 2007. Matematika untuk Kelas X semester 2 SMA. Bandung: Gasindo media Utama.

Nasution, S. 1990. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar-mengajar. Jakarta: Bina Aksara.

Poerwadarminta, W.J.S,. 2006. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Popham, W. James. 2003. Teknik Mengajar Secara Sistematis (Terjemahan). Jakarta: Rineka cipta.

Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Sukardi, Ketut Dewa. 1998. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Bina Aksara.

Sukino. 2007. Matematika untuk SMA Kelas 1B semester 2. Jakarta : Erlangga

Supranto, J. 2001. Statistik Teori dan Aplikasi. Jakarta: Erlangga.

Usman, Moh. Uzer. 1993. Upaya Optimalisasi kegiatan Belajar-mengajar. Bandung: Remaja Rosdaharya.
Usman, Moh. Uzer. 2000. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar