Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 29 Mei 2010

HUBUNGAN ANTARA MINAT BELAJAR MATEMATIKA DENGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS II SMP NEGERI 3 WANGI-WANGI SELATAN

Wa Ode Sarliati (A1C1 98 071). Hubungan Minat Belajar Matematika Siswa dengan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
Masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan?
(2) Bagaimana prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan? (3) Apakah ada hubungan antara minat belajar siswa dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan?
Hipotesis dalam penelitian ini adalah: Ada hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika siswa dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan tahun ajaran 2005/2006 yang tersebar dalam 5 kelas paralel dengan jumlah 202 orang siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik proporsional random sampling yaitu 25% dari jumlah populasi.
Pengambilan data dalam penelitian ini dengan instrumen berupa angket minat belajar matematika siswa yang terdiri dari 20 item. Sedangkan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan tahun pelajaran 2004/2005. Data dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif dan statistik inferensial.
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa: (1) Minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan dikatakan baik yaitu sebanyak 36 orang atau 70,59%. (2) Prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan dikatakan baik yaitu sebanyak 39 orang atau 68,63%. (3) Terdapat hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika siswa dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan. Signifikansi ini ditunjukkan oleh hasil uji thit = 3,2196 lebih besar dari ttabel sebesar 1,67. Serta besarnya hubungan minat belajar matematika siswa dengan prestasi belajar adalah 41,79%



Pembimbing II Mahasiswa




Drs. Utu Rahim, M.Pd. Wa Ode Sarliati
NIP 131 690 921 STB. A1C1 98 071

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah mutu pendidikan di Indonesia khususnya prestasi belajar siswa merupakan masalah nasional yang telah lama diperbincangkan. Upaya yang berkenaan dengan peningkatan prestasi belajar ini telah banyak dilakukan, baik seminar pendidikan maupun penelitian pendidikan tentang model pembelajaran, akan tetapi kenyataannya belum mampu memberikan hasil yang maksimal.
Masalah utama dalam dunia pendidikan kita adalah rendahnya penguasaan siswa terhadap materi pelajaran terutama pelajaran matematika. Kurang mampunya siswa dalam memahami materi pelajaran matematika ini terlihat dari rendahnya prestasi belajar matematika yang dicapai oleh siswa. Sebagaimana hasil observasi penulis pada SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan, yaitu secara umum prestasi belajar matematika siswa pada sekolah tersebut masih di bawah harapan.
Berdasarkan data Wakil Kepala SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan diperoleh bahwa rata-rata nilai matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan yang diperoleh dalam ulangan semester III dan IV tahun pelajaran 2004/2005 adalah 5,23 dan 5,31. Hal ini merupakan indikator bahwa prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan masih tergolong rendah.
Permasalahan ini menjadi tantangan bagi guru, orang tua dan siswa sendiri untuk selalu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar matematika. Prestasi belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari dalam diri siswa (faktor internal) seperti kecerdasan, motivasi, minat, dan bakat maupun faktor dari luar diri siswa (faktor eksternal) seperti lingkungan, fasilitas belajar, dan metode pengajaran.
Minat sebagai salah satu faktor internal mempunyai peranan dalam menunjang prestasi belajar siswa, siswa yang tidak berminat terhadap bahan pelajaran akan menunjukkan sikap yang kurang simpatik, malas dan tidak bergairah mengikuti proses belajar mengajar. Untuk merangsang perhatian siswa setiap guru dituntut harus mampu menciptakan suasana proses belajar mengajar sedemikian rupa sehingga mampu menarik perhatian siswa terhadap apa yang diberikan. Suatu keadaan yang menarik perhatian siswa diharapkan dapat menimbulkan minat belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Lisnawaty (1993: 58) bahwa minat belajar perlu mendapat perhatian yang khusus karena minat merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan proses belajar. Apabila anak didik menunjukkan minat belajar yang rendah adalah tugas pendidik disamping orang tua untuk meningkatkan minat tersebut, sebab jika pendidik mengabaikan minat belajar anak akan mengakibatkan tidak berhasilnya dalam proses belajar mengajar.
Sejalan dengan uraian tersebut, Slameto (2003: 57) mengemukakan bahwa salah satu faktor intern yang sangat besar pengaruhnya terhadap proses belajar siswa adalah minat siswa itu sendiri, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Sebaliknya bila bahan pelajaran itu sesuai dengan minat siswa maka akan lebih mudah mempelajarinya karena minat menambah frekuensi kegiatan belajar.
Pada saat observasi penulis melakukan wawancara dengan siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan tentang pembelajaran matematika. Sebagian dari siswa ada yang mengaku senang dengan pelajaran matematika dan sebagian siswa mengaku tidak senang dengan pelajaran matematika. Tidak jarang siswa yang memandang matematika sebagai mata pelajaran yang sulit, bahkan ada siswa yang menganggap bahwa matematika adalah kegiatan pembelajaran yang membosankan. Hal ini menunjukkan bahwa minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan masih kurang.
Oleh karena itu penulis terdorong untuk meneliti tentang hubungan antara minat belajar matematika dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
2. Bagaimana prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
3. Apakah ada hubungan antara minat belajar siswa dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian adalah untuk mengetahui:
1. Minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
2. Prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
3. Ada tidaknya hubungan antara minat belajar siswa dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan informasi bagi peneliti dan guru bidang studi matematika tentang minat belajar siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
2. Sebagai bahan informasi kepada siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan dalam meningkatkan proses belajar mengajar.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan yang merupakan hasil dari belajar dapat ditimbulkan dalam berbagai bentuk seperti pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kemampuan dan kecakapan serta perubahan-perubahan pada aspek-aspek lainnya yang ada pada diri seseorang yang melakukan belajar.
Menurut Ahmadi dan Supriyono (1990: 121) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Perubahan yang terjadi dalam aspek-aspek kematangan, pertumbuhan dan perkembangan tidak termasuk dalam pengertian belajar. Sudjana (1990: 5) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek atau latihan. Perubahan tingkah laku individu sebagai hasil belajar ditunjukkan dalam berbagai aspek seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, persepsi, motivasi, atau gabungan dari aspek-aspek tersebut. Selanjutnya G.A. Kimble dalam Lisnawaty (1993: 38) mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam potensi tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari latihan dengan penguatan dan tidak termasuk perubahan-perubahan karena kematangan, kelelahan atau kerusakan pada susunan saraf.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang yang telah mengalami praktek atau latihan yang dapat diamati dari kemampuan aktual dan potensi baru yang di peroleh melalui usaha, dan bukan perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisiologis atau kematangan. Perubahan tingkah laku akibat proses belajar meliputi aspek pengetahuannya, keterampilan, maupun sikapnya.

B. Minat Belajar Matematika
1. Pengertian Minat
Minat merupakan suatu kesukaan, kegemaran, atau kesenangan akan sesuatu. Minat akan mengarahkan tindakan seseorang terhadap suatu objek atas dasar rasa senang atau tidak senang. Jadi perasaan senang dan tidak senang merupakan dasar dari suatu minat.
Menurut Carl Safran dalam Dewa Ketut Sukardi (1988: 61) mengemukakan bahwa minat adalah suatu sikap atau perasaan yang positif terhadap suatu aktivitas orang, pengalaman atau benda.
Cony Semiawan dalam Dewa Ketut Sukardi (1988: 61) mendefinisikan minat sebagai suatu keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberi kepuasan kepadanya.

Reber dalam Syah (1995: 136) mengemukakan bahwa minat mempunyai ketergantungan pada faktor internal seperti perhatian, keinginan kemauan dan kebutuhan.
Slameto (2003: 180) memberikan pengertian bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dan sesuatu di luar diri.
Selanjutnya Dewa Ketut Sukardi (1988: 62) mengemukakan bahwa minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari kombinasi, perpaduan, dan campuran dari perasaan, prasangka, cemas, takut, dan kecenderungan-kecenderungan lain yang bisa mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu kecenderungan sikap mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan pikiran dengan niat yang tulus tanpa paksaan untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi minat belajar matematika adalah keterlibatan seseorang dengan segenap kegiatan yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai pemahaman tentang pelajaran matematika yang dipelajarinya melalui latihan dan pengalaman.
2. Minat Belajar Matematika Siswa
Perasaan senang dan tidak senang merupakan dasar dari suatu minat. Minat seseorang akan dapat diketahui dari pernyataan senang dan tidak senang ataupun suka atau tidak suka terhadap suatu obyek tertentu. Begitu pula minat seorang siswa dapat diketahui dari kecenderungannya terpikat atau tertarik terhadap sesuatu pengalaman dan ingin untuk melestarikan pengalaman tersebut.
Minat siswa terhadap pelajaran merupakan kekuatan yang akan mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat (sikapnya senang) kepada pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar, berbeda dengan siswa yang sikapnya hanya menerima kepada pelajaran. Mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk bisa terus tekun karena tidak ada pendorongnya.
Minat merupakan faktor psikologis yang akan mempengaruhi belajar. Minat yang dapat menunjang belajar adalah minat kepada bahan/mata pelajaran dan kepada guru yang mengajarnya. Apabila siswa tidak berminat kepada bahan/mata pelajaran juga kepada gurunya, maka siswa tidak akan mau belajar oleh karena itu apabila siswa tidak berminat sebaiknya dibangkitkan sikap positif (sikap menerima) kepada pelajaran dan kepada gurunya, agar siswa mau belajar memperhatikan pelajaran.
Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong belajar selanjutnya. Orang yang berminat terhadap sesuatu, dia akan berusaha untuk mendapatkannya. Demikian pula siswa yang berminat terhadap matematika, maka dia akan berusaha dan berkorban semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan persoalan matematika yang dihadapinya. Wujud pengorbanannya dapat berupa melengkapi fasilitas belajar yang dibutuhkan dalam matematika seperti kalkulator, tabel logaritma, mistar, jangka, busur, kertas grafik, dan lain-lain. Disamping itu waktu dan frekuensi belajar matematika akan lebih banyak atau paling tidak sama dengan pelajaran yang lain.
Minat belajar matematika bukan saja karena materinya yang menarik akan tetapi didukung oleh cara penyampaian materi yang baik dari para pengajar. Makin baik cara penyampaiannya makin besar pula kemungkinan siswa berminat belajar matematika.
Minat dan keterlibatan orang tua dalam program sekolah dapat menjadi faktor yang ,menentukan dalam meningkatkan prestasi siswa di sekolah, misalnya orang tua mau mendengarkan pendapat anaknya tentang sekolah, menolong anak menyesuaikan diri di kelas, bahkan turut aktif menjadi pelatih dalam kegiatan ekstra kokurikuler.
Di samping peranan aktif orang tua dalam perkembangan belajar siswa perlu juga mendapat perhatian yang khusus karena minat merupakan salah faktor penunjang keberhasilan proses belajar, disamping itu bahwa minat yang timbul dari kebutuhan siswa akan merupakan salah satu faktor penting bagi siswa dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan atau usahanya. Oleh karena itu minat pada siswa-siswa terutama minat belajar harus diperhatikan dengan seksama hal ini untuk memudahkan membimbing dan mengarahkan siswa belajar, sehingga siswa tidak perlu mendapat dorongan dari luar jika pekerjaan yang dilakukan cukup menarik minatnya.
Guru sebagai tenaga pengajar di kelas akan berusaha sedapat mungkin untuk membangkitkan minat belajar pada siswa-siswanya dengan berbagai cara, salah satu caranya dengan memperkenalkan kepada siswa berbagai macam kegiatan-kegiatan belajar, seperti bermain sambil belajar matematika sehingga anak-anak menunjukkan minat yang besar.
Ada beberapa syarat yang diperlukan untuk membangkitkan minat siswa:
1. Belajar harus menarik perhatian
Obyek atau keadaan yang menarik perhatian, pasti kemudian hari akan terjadi minat untuk lebih mendekati atau mendalami masalahnya.
Agar pengajaran memperoleh hasil yang sebaik-baiknya, pendidik (guru) harus berusaha membangkitkan minat peserta didik terhadap bahan pelajaran yang sedang diajarkan untuk mendapatkan perhatian misalnya memberi contoh-contoh yang konkret.
Untuk dapat membangkitkan perhatian spontan (perhatian yang bersumber dari peserta didik) seorang pendidik harus:
a. Mengajar dengan cara yang “menarik” misalnya menyesuaikan bahan pelajaran yang diajarkan dengan dunia siswa seperti memanfaatkan lingkungan.
b. Mengadakan selingan yang sehat: tentu jika selingan-selingan disesuaikan dengan pelajaran matematika yang berwawasan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Menjelaskan dari yang mudah ke yang “sukar” atau dari yang konkret ke yang abstrak.
d. Sedapat mungkin atau menghilangkan saat atau keadaan yang menyebabkan perhatian jadi tak perlu.
e. Penggunaan alat-alat peraga: hal ini dapat dilakukan dengan cara:
(1) langsung yaitu memperlihatkan bendanya sendiri, mengadakan percobaan-percobaan yang dapat diamati peserta didik misalnya pendidikan membawa alat-alat atau benda-benda ke dalam kelas atau membawa peserta ke laboratorium, pabrik-pabrik, kebun binatang dan sebagainya.
(2) tidak langsung yaitu dengan menunjukkan benda tiruan misalnya model, gambar, photo-photo, film dan sebagainya.
Pendidikan yang mengajar didepan kelas, dan orang tua harus membantu atau membimbing anak belajar di rumah dan harus bersama-sama berusaha untuk dapat membangkitkan minat belajar peserta didik dengan cara:
a. Menjelaskan tujuan bahan pelajaran yang akan diberikan dengan jelas.
b. Berusaha menghubungkan apa yang diketahui dan yang akan diketahui, maksudnya bahwa hubungan pelajaran pertama dengan pelajaran berikutnya harus ada hubungannya.
c. Mengadakan kompetisi yang sehat dalam belajar.
d. Menggunakan pujian dan hukum yang bijaksana
2. Objek atau keadaan yang kekuatannya menarik akan menimbulkan minat belajar, misalnya bau yang harum orang akan mencari dari mana timbulnya bau yang harum itu.
Dalam dunia pendidikan bahwa pelajaran yang diberikan jangan bersifat verbalistis, tetapi peserta didik dilatih bekerja sendiri atau memberi kesempatan pada peserta didik turut aktif selama pengajaran berjalan. Dengan demikian selama berlangsungnya pengajaran pendidik (guru) harus berusaha membangkitkan aktifitas baik jasmani maupun rohani.
Keaktifan jasmani adalah kegiatan yang nampak bila peserta didik sibuk bekerja, sedangkan keaktifan rohani adalah kegiatan yang nampak bila peserta didik mengamati dengan teliti, mengingat, memecahkan persoalan dan mengambil kesimpulan.
Untuk membangkitkan minat belajar aktivitas jasmani dan rohani harus digabung karena tanpa berbuat anak tidak berpikir, agar dapat berpikir diberi kesempatan untuk berbuat sendiri.
3. Masalah Berulang-Ulang Terjadi
Masalah yang berulang-ulang terjadi akan merupakan pendorong bagi peserta didik untuk membangkitkan minat belajar karena masalah tersebut sering muncul sehingga merupakan suatu kebiasaan. Jika situasi ini dirasa sangat menarik perhatian anak didik akan menimbulkan minat belajar yang lebih besar dan mengulangi masalah karena sesuai dengan keadaan “tepat” sehingga tidak menimbulkan kejenuhan.
Untuk menghindarkan ingatan yang setengah-setengah atau yang belum mengerti maka pengulangan perlu dilakukan dengan cara mengulang secara teratur, supaya bahan pelajaran yang diajarkan benar-benar dikuasai dan siap digunakan.

4. Semua kegiatan harus kontras
Hal-hal yang tidak sama bahkan menimbulkan kontras akan dapat menarik perhatian seseorang, sehingga dapat menimbulkan minat untuk mengetahui lebih lanjut.
Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara sadar dan aktif, berarti aktivitas berpusat pada siswa sedangkan pendidik lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator (pemudah) terjadinya proses belajar. Sebagai kriterianya dapat dilihat bahwa siswa mengalami perubahan dan atau pertambahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Komponen-komponen proses belajar mengajar yang harus dilakukan sebagai usaha membangkitkan minat belajar anak atau siswa antara lain merumuskan tujuan pengajaran, mengembangkan atau menyusun alat-alat evaluasi, menetapkan kegiatan belajar mengajar, merencanakan program dengan menggunakan metode mengajar yang tepat. Dengan mengetahui komponen-komponen proses belajar mengajar, orang tua bersama guru akan lebih mudah dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
Akhirnya diharapkan agar lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah khususnya kelas merupakan tempat-tempat yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan minat belajar secara utuh dan terpadu.
Menurut Russefendi dalam Lisnawaty (1993: 72) agar anak didik memahami dan mengerti konsep (struktur) matematika seyogyanya diajarkan dengan urutan konsep murni, dilanjutkan dengan konsep notasi, dan diakhiri dengan konsep terapan. Disamping itu untuk dapat mempelajari dengan baik struktur matematika maka representasinya (model) dimulai dengan benda-benda konkret yang beraneka ragam.
Menurut Lisnawaty (1993: 65) bahwa matematika untuk suatu negara penting karena jatuh bangunnya suatu negara tergantung dari kemajuan dibidang matematika. Oleh karena itu sebagai langkah awal untuk mengarah pada tujuan yang diharapkan adalah mendorong atau memberi motivasi bagi masyarakat khususnya peserta didik (siswa) untuk berminat belajar matematika. Bagi para peserta didik yang sudah mempunyai minat untuk belajar matematika akan merasa senang dan dengan penuh perhatian mengikuti pelajaran tersebut.

C. Prestasi Belajar
1. Prestasi Belajar Matematika
Belajar merupakan suatu proses dimana tingkah laku diubah melalui praktek atau latihan. Dengan belajar manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif-kualitatif individu sehingga tingkahlakunya berkembang. Perubahan inilah yang merupakan hasil belajar. Perubahan itu terjadi pada diri individu sebagai tingkah laku yang baru yang bersifat tetap pada akhirnya akan melahirkan kemampuan bagi seseorang dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
Kemampuan itulah yang terwujud dalam prestasi belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Adinegoro (1980: 3) bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari segala pekerjaan yang berhasil dan menunjukkan hasil kecakapan manusia setelah melalui proses belajar. Sehingga dikatakan bahwa prestasi belajar matematika merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam diri seseorang setelah melakukan suatu proses belajar matematika.
Adanya perubahan itu tampak pada adanya kemampuan yang dimiliki siswa dalam menyelesaikan pertanyaan/persoalan dan tugas yang diberikan oleh guru sebagai suatu prestasi yang dihasilkan. Dengan demikian prestasi belajar menggambarkan keberhasilan suatu proses belajar yang dapat mencerminkan tingkat kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka prestasi belajar matematika dapat diartikan sebagai hasil belajar matematika yang diperoleh setelah menempuh proses belajar matematika yang dilambangkan dengan nilai hasil belajar. Jadi prestasi belajar matematika adalah bukti keberhasilan usaha yang dicapai dalam belajar matematika.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi belajar yang dicapai individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu. Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya.
Yang tergolong faktor internal adalah:
1. Faktor jasmaniah (fisiologis) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh, dan sebagainya.
2. Faktor psikologis, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh yang terdiri atas:
a. Faktor intelektif yang meliputi:
1) Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat
2) Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki
b. Faktor non intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan penguasaan diri.
3. Faktor kematangan fisik maupun psikis
Yang tergolong faktor eksternal ialah:
1. Faktor sosial, yang terdiri atas keluarga, sekolah, masyarakat dan kelompok
2. Faktor budaya seperti adat-istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian
3. Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar dan iklim
4. Faktor lingkungan spiritual atau keamanan
(Ahmadi, 1990: 130-131).
Dari beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar di atas, yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian ini adalah minat yang termasuk dalam faktor psikologis dan tergolong faktor internal.

3. Hubungan Minat Belajar dan Prestasi Belajar
Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah minat belajar. Minat belajar yang tinggi akan mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar matematika.
Minat besar pengaruhnya terhadap pelajaran, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar (Slameto, 2003: 57). Sejalan dengan itu Ahmadi (1990: 79) mengemukakan bahwa tidak adanya minat siswa terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar, karena itu pelajaran pun tidak pernah terjadi proses dalam otak. Sehingga tujuan belajar tidak dapat terlaksana.
Selanjutnya Usman (1993: 12) mengemukakan bahwa anak yang tergolong ke dalam berprestasi kurang ialah anak yang memiliki taraf intelegensi yang tergolong tinggi. Akan tetapi prestasi belajar yang dicapai termasuk rendah (di bawah rata-rata). Secara potensial anak yang bertaraf intelegensi tinggi memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi. Gejala berprestasi kurang ini sesungguhnya dirasakan sebagai salah satu masalah dalam belajar karena secara potensial mereka memiliki kemungkinan untuk memperoleh prestasi belajar yang lebih tinggi. Timbulnya gejala ini berkaitan dengan motivasi, minat, sikap dan kebiasaan belajar, ciri-ciri kepribadian tertentu dan pola-pola pendidikan yang diterima dari orang tuanya, serta suasana rumah tangga pada umumnya. Anak-anak dari golongan ini memerlukan perhatian yang sebaik-baiknya dari para guru, terutama dari para petugas bimbingan di sekolah.
Anak yang mencapai suatu prestasi, sebenarnya merupakan hasil kecerdasan dan minat (Lisnawaty, 1993: 58). Jadi seorang siswa tidak mungkin sukses dalam segala aktivitas tanpa adanya minat. Minat dapat timbul pada seseorang jika menarik perhatian terhadap suatu obyek. Perhatian ini akan terjadi dengan sendirinya atau mungkin timbul karena ada pengaruh dari luar.
Minat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan baik. Sebaliknya siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu pelajaran atau ilmu pengetahuan akan senang belajar sehingga dapat berhasil dalam pelajaran itu.

D. Hasil Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Jaya (2003: 30) dengan judul “Hubungan Minat Belajar Matematika Siswa dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas II SLTP Negeri 1 Tikep” yang menyimpulkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan minat belajar matematika siswa dengan hasil belajar matematika siswa kelas II SLTP Negeri 1 Tikep tahun pelajaran 2002/2003 dengan nilai korelasi sebesar 0,7098.

E. Kerangka Pemikiran
Minat belajar merupakan rasa ketertarikan siswa terhadap kegiatan pembelajaran secara penuh perhatian untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai pemahaman tentang berbagai ilmu pengetahuan melalui latihan dan pengalaman. Seorang siswa yang belajar dengan didasari minat, akan memudahkan terciptanya konsentrasi, memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan dan memperkecil kebosanan dalam diri siswa serta melahirkan perhatian yang tinggi.
Tinggi rendahnya minat belajar siswa dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dan prestasi belajar yang diperoleh siswa. Siswa yang belajar tanpa didasari minat, maka ia tidak dapat belajar dengan baik. Hal ini mengakibatkan rendahnya prestasi belajar yang diperoleh siswa.
Dalam proses belajar mengajar matematika, minat juga sangat penting artinya. Dalam hal belajar mengajar, pemahaman konsep-konsep hanya dapat diperoleh bila dilakukan dengan penuh perhatian. Dengan demikian berarti harus didorong oleh minat. Seorang siswa yang belajar matematika tidak sesuai dengan minatnya, maka ia cepat bosan dengan materi yang diberikan. Salah satu faktor penyebab lemahnya siswa terhadap mata pelajaran matematika adalah kurangnya minat, sehingga prestasi belajar matematika yang diperoleh siswa rendah. Seorang siswa yang mempunyai minat untuk mempelajari matematika akan menunjukkan prestasi belajar matematika yang baik. Jadi antara minat belajar dengan prestasi belajar matematika mempunyai hubungan yang sangat erat.

F. Hipotesis Penelitian
Sesuai dengan tinjauan pustaka, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Ada hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika dan prestasi belajar matematika pada siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
Secara statistik, hipotesis di atas dapat dirumuskan sebagai berikut:
H0:  = 0 lawan H1:  > 0
H0 : Tidak ada hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
H1 : Ada hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan yang merupakan hasil dari belajar dapat ditimbulkan dalam berbagai bentuk seperti pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kemampuan dan kecakapan serta perubahan-perubahan pada aspek-aspek lainnya yang ada pada diri seseorang yang melakukan belajar.
Menurut Ahmadi dan Supriyono (1990: 121) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Perubahan yang terjadi dalam aspek-aspek kematangan, pertumbuhan dan perkembangan tidak termasuk dalam pengertian belajar. Sudjana (1990: 5) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek atau latihan. Perubahan tingkah laku individu sebagai hasil belajar ditunjukkan dalam berbagai aspek seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, persepsi, motivasi, atau gabungan dari aspek-aspek tersebut. Selanjutnya G.A. Kimble dalam Lisnawaty (1993: 38) mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam potensi tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari latihan dengan penguatan dan tidak termasuk perubahan-perubahan karena kematangan, kelelahan atau kerusakan pada susunan saraf.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang yang telah mengalami praktek atau latihan yang dapat diamati dari kemampuan aktual dan potensi baru yang di peroleh melalui usaha, dan bukan perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisiologis atau kematangan. Perubahan tingkah laku akibat proses belajar meliputi aspek pengetahuannya, keterampilan, maupun sikapnya.

B. Minat Belajar Matematika
1. Pengertian Minat
Minat merupakan suatu kesukaan, kegemaran, atau kesenangan akan sesuatu. Minat akan mengarahkan tindakan seseorang terhadap suatu objek atas dasar rasa senang atau tidak senang. Jadi perasaan senang dan tidak senang merupakan dasar dari suatu minat.
Menurut Carl Safran dalam Dewa Ketut Sukardi (1988: 61) mengemukakan bahwa minat adalah suatu sikap atau perasaan yang positif terhadap suatu aktivitas orang, pengalaman atau benda.
Cony Semiawan dalam Dewa Ketut Sukardi (1988: 61) mendefinisikan minat sebagai suatu keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberi kepuasan kepadanya.

Reber dalam Syah (1995: 136) mengemukakan bahwa minat mempunyai ketergantungan pada faktor internal seperti perhatian, keinginan kemauan dan kebutuhan.
Slameto (2003: 180) memberikan pengertian bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dan sesuatu di luar diri.
Selanjutnya Dewa Ketut Sukardi (1988: 62) mengemukakan bahwa minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari kombinasi, perpaduan, dan campuran dari perasaan, prasangka, cemas, takut, dan kecenderungan-kecenderungan lain yang bisa mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu kecenderungan sikap mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan pikiran dengan niat yang tulus tanpa paksaan untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi minat belajar matematika adalah keterlibatan seseorang dengan segenap kegiatan yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai pemahaman tentang pelajaran matematika yang dipelajarinya melalui latihan dan pengalaman.
2. Minat Belajar Matematika Siswa
Perasaan senang dan tidak senang merupakan dasar dari suatu minat. Minat seseorang akan dapat diketahui dari pernyataan senang dan tidak senang ataupun suka atau tidak suka terhadap suatu obyek tertentu. Begitu pula minat seorang siswa dapat diketahui dari kecenderungannya terpikat atau tertarik terhadap sesuatu pengalaman dan ingin untuk melestarikan pengalaman tersebut.
Minat siswa terhadap pelajaran merupakan kekuatan yang akan mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat (sikapnya senang) kepada pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar, berbeda dengan siswa yang sikapnya hanya menerima kepada pelajaran. Mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk bisa terus tekun karena tidak ada pendorongnya.
Minat merupakan faktor psikologis yang akan mempengaruhi belajar. Minat yang dapat menunjang belajar adalah minat kepada bahan/mata pelajaran dan kepada guru yang mengajarnya. Apabila siswa tidak berminat kepada bahan/mata pelajaran juga kepada gurunya, maka siswa tidak akan mau belajar oleh karena itu apabila siswa tidak berminat sebaiknya dibangkitkan sikap positif (sikap menerima) kepada pelajaran dan kepada gurunya, agar siswa mau belajar memperhatikan pelajaran.
Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong belajar selanjutnya. Orang yang berminat terhadap sesuatu, dia akan berusaha untuk mendapatkannya. Demikian pula siswa yang berminat terhadap matematika, maka dia akan berusaha dan berkorban semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan persoalan matematika yang dihadapinya. Wujud pengorbanannya dapat berupa melengkapi fasilitas belajar yang dibutuhkan dalam matematika seperti kalkulator, tabel logaritma, mistar, jangka, busur, kertas grafik, dan lain-lain. Disamping itu waktu dan frekuensi belajar matematika akan lebih banyak atau paling tidak sama dengan pelajaran yang lain.
Minat belajar matematika bukan saja karena materinya yang menarik akan tetapi didukung oleh cara penyampaian materi yang baik dari para pengajar. Makin baik cara penyampaiannya makin besar pula kemungkinan siswa berminat belajar matematika.
Minat dan keterlibatan orang tua dalam program sekolah dapat menjadi faktor yang ,menentukan dalam meningkatkan prestasi siswa di sekolah, misalnya orang tua mau mendengarkan pendapat anaknya tentang sekolah, menolong anak menyesuaikan diri di kelas, bahkan turut aktif menjadi pelatih dalam kegiatan ekstra kokurikuler.
Di samping peranan aktif orang tua dalam perkembangan belajar siswa perlu juga mendapat perhatian yang khusus karena minat merupakan salah faktor penunjang keberhasilan proses belajar, disamping itu bahwa minat yang timbul dari kebutuhan siswa akan merupakan salah satu faktor penting bagi siswa dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan atau usahanya. Oleh karena itu minat pada siswa-siswa terutama minat belajar harus diperhatikan dengan seksama hal ini untuk memudahkan membimbing dan mengarahkan siswa belajar, sehingga siswa tidak perlu mendapat dorongan dari luar jika pekerjaan yang dilakukan cukup menarik minatnya.
Guru sebagai tenaga pengajar di kelas akan berusaha sedapat mungkin untuk membangkitkan minat belajar pada siswa-siswanya dengan berbagai cara, salah satu caranya dengan memperkenalkan kepada siswa berbagai macam kegiatan-kegiatan belajar, seperti bermain sambil belajar matematika sehingga anak-anak menunjukkan minat yang besar.
Ada beberapa syarat yang diperlukan untuk membangkitkan minat siswa:
1. Belajar harus menarik perhatian
Obyek atau keadaan yang menarik perhatian, pasti kemudian hari akan terjadi minat untuk lebih mendekati atau mendalami masalahnya.
Agar pengajaran memperoleh hasil yang sebaik-baiknya, pendidik (guru) harus berusaha membangkitkan minat peserta didik terhadap bahan pelajaran yang sedang diajarkan untuk mendapatkan perhatian misalnya memberi contoh-contoh yang konkret.
Untuk dapat membangkitkan perhatian spontan (perhatian yang bersumber dari peserta didik) seorang pendidik harus:
a. Mengajar dengan cara yang “menarik” misalnya menyesuaikan bahan pelajaran yang diajarkan dengan dunia siswa seperti memanfaatkan lingkungan.
b. Mengadakan selingan yang sehat: tentu jika selingan-selingan disesuaikan dengan pelajaran matematika yang berwawasan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Menjelaskan dari yang mudah ke yang “sukar” atau dari yang konkret ke yang abstrak.
d. Sedapat mungkin atau menghilangkan saat atau keadaan yang menyebabkan perhatian jadi tak perlu.
e. Penggunaan alat-alat peraga: hal ini dapat dilakukan dengan cara:
(1) langsung yaitu memperlihatkan bendanya sendiri, mengadakan percobaan-percobaan yang dapat diamati peserta didik misalnya pendidikan membawa alat-alat atau benda-benda ke dalam kelas atau membawa peserta ke laboratorium, pabrik-pabrik, kebun binatang dan sebagainya.
(2) tidak langsung yaitu dengan menunjukkan benda tiruan misalnya model, gambar, photo-photo, film dan sebagainya.
Pendidikan yang mengajar didepan kelas, dan orang tua harus membantu atau membimbing anak belajar di rumah dan harus bersama-sama berusaha untuk dapat membangkitkan minat belajar peserta didik dengan cara:
a. Menjelaskan tujuan bahan pelajaran yang akan diberikan dengan jelas.
b. Berusaha menghubungkan apa yang diketahui dan yang akan diketahui, maksudnya bahwa hubungan pelajaran pertama dengan pelajaran berikutnya harus ada hubungannya.
c. Mengadakan kompetisi yang sehat dalam belajar.
d. Menggunakan pujian dan hukum yang bijaksana
2. Objek atau keadaan yang kekuatannya menarik akan menimbulkan minat belajar, misalnya bau yang harum orang akan mencari dari mana timbulnya bau yang harum itu.
Dalam dunia pendidikan bahwa pelajaran yang diberikan jangan bersifat verbalistis, tetapi peserta didik dilatih bekerja sendiri atau memberi kesempatan pada peserta didik turut aktif selama pengajaran berjalan. Dengan demikian selama berlangsungnya pengajaran pendidik (guru) harus berusaha membangkitkan aktifitas baik jasmani maupun rohani.
Keaktifan jasmani adalah kegiatan yang nampak bila peserta didik sibuk bekerja, sedangkan keaktifan rohani adalah kegiatan yang nampak bila peserta didik mengamati dengan teliti, mengingat, memecahkan persoalan dan mengambil kesimpulan.
Untuk membangkitkan minat belajar aktivitas jasmani dan rohani harus digabung karena tanpa berbuat anak tidak berpikir, agar dapat berpikir diberi kesempatan untuk berbuat sendiri.
3. Masalah Berulang-Ulang Terjadi
Masalah yang berulang-ulang terjadi akan merupakan pendorong bagi peserta didik untuk membangkitkan minat belajar karena masalah tersebut sering muncul sehingga merupakan suatu kebiasaan. Jika situasi ini dirasa sangat menarik perhatian anak didik akan menimbulkan minat belajar yang lebih besar dan mengulangi masalah karena sesuai dengan keadaan “tepat” sehingga tidak menimbulkan kejenuhan.
Untuk menghindarkan ingatan yang setengah-setengah atau yang belum mengerti maka pengulangan perlu dilakukan dengan cara mengulang secara teratur, supaya bahan pelajaran yang diajarkan benar-benar dikuasai dan siap digunakan.

4. Semua kegiatan harus kontras
Hal-hal yang tidak sama bahkan menimbulkan kontras akan dapat menarik perhatian seseorang, sehingga dapat menimbulkan minat untuk mengetahui lebih lanjut.
Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara sadar dan aktif, berarti aktivitas berpusat pada siswa sedangkan pendidik lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator (pemudah) terjadinya proses belajar. Sebagai kriterianya dapat dilihat bahwa siswa mengalami perubahan dan atau pertambahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Komponen-komponen proses belajar mengajar yang harus dilakukan sebagai usaha membangkitkan minat belajar anak atau siswa antara lain merumuskan tujuan pengajaran, mengembangkan atau menyusun alat-alat evaluasi, menetapkan kegiatan belajar mengajar, merencanakan program dengan menggunakan metode mengajar yang tepat. Dengan mengetahui komponen-komponen proses belajar mengajar, orang tua bersama guru akan lebih mudah dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
Akhirnya diharapkan agar lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah khususnya kelas merupakan tempat-tempat yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan minat belajar secara utuh dan terpadu.
Menurut Russefendi dalam Lisnawaty (1993: 72) agar anak didik memahami dan mengerti konsep (struktur) matematika seyogyanya diajarkan dengan urutan konsep murni, dilanjutkan dengan konsep notasi, dan diakhiri dengan konsep terapan. Disamping itu untuk dapat mempelajari dengan baik struktur matematika maka representasinya (model) dimulai dengan benda-benda konkret yang beraneka ragam.
Menurut Lisnawaty (1993: 65) bahwa matematika untuk suatu negara penting karena jatuh bangunnya suatu negara tergantung dari kemajuan dibidang matematika. Oleh karena itu sebagai langkah awal untuk mengarah pada tujuan yang diharapkan adalah mendorong atau memberi motivasi bagi masyarakat khususnya peserta didik (siswa) untuk berminat belajar matematika. Bagi para peserta didik yang sudah mempunyai minat untuk belajar matematika akan merasa senang dan dengan penuh perhatian mengikuti pelajaran tersebut.

C. Prestasi Belajar
1. Prestasi Belajar Matematika
Belajar merupakan suatu proses dimana tingkah laku diubah melalui praktek atau latihan. Dengan belajar manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif-kualitatif individu sehingga tingkahlakunya berkembang. Perubahan inilah yang merupakan hasil belajar. Perubahan itu terjadi pada diri individu sebagai tingkah laku yang baru yang bersifat tetap pada akhirnya akan melahirkan kemampuan bagi seseorang dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
Kemampuan itulah yang terwujud dalam prestasi belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Adinegoro (1980: 3) bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari segala pekerjaan yang berhasil dan menunjukkan hasil kecakapan manusia setelah melalui proses belajar. Sehingga dikatakan bahwa prestasi belajar matematika merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam diri seseorang setelah melakukan suatu proses belajar matematika.
Adanya perubahan itu tampak pada adanya kemampuan yang dimiliki siswa dalam menyelesaikan pertanyaan/persoalan dan tugas yang diberikan oleh guru sebagai suatu prestasi yang dihasilkan. Dengan demikian prestasi belajar menggambarkan keberhasilan suatu proses belajar yang dapat mencerminkan tingkat kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka prestasi belajar matematika dapat diartikan sebagai hasil belajar matematika yang diperoleh setelah menempuh proses belajar matematika yang dilambangkan dengan nilai hasil belajar. Jadi prestasi belajar matematika adalah bukti keberhasilan usaha yang dicapai dalam belajar matematika.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi belajar yang dicapai individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu. Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya.
Yang tergolong faktor internal adalah:
1. Faktor jasmaniah (fisiologis) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh, dan sebagainya.
2. Faktor psikologis, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh yang terdiri atas:
a. Faktor intelektif yang meliputi:
1) Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat
2) Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki
b. Faktor non intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan penguasaan diri.
3. Faktor kematangan fisik maupun psikis
Yang tergolong faktor eksternal ialah:
1. Faktor sosial, yang terdiri atas keluarga, sekolah, masyarakat dan kelompok
2. Faktor budaya seperti adat-istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian
3. Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar dan iklim
4. Faktor lingkungan spiritual atau keamanan
(Ahmadi, 1990: 130-131).
Dari beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar di atas, yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian ini adalah minat yang termasuk dalam faktor psikologis dan tergolong faktor internal.

3. Hubungan Minat Belajar dan Prestasi Belajar
Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah minat belajar. Minat belajar yang tinggi akan mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar matematika.
Minat besar pengaruhnya terhadap pelajaran, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar (Slameto, 2003: 57). Sejalan dengan itu Ahmadi (1990: 79) mengemukakan bahwa tidak adanya minat siswa terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar, karena itu pelajaran pun tidak pernah terjadi proses dalam otak. Sehingga tujuan belajar tidak dapat terlaksana.
Selanjutnya Usman (1993: 12) mengemukakan bahwa anak yang tergolong ke dalam berprestasi kurang ialah anak yang memiliki taraf intelegensi yang tergolong tinggi. Akan tetapi prestasi belajar yang dicapai termasuk rendah (di bawah rata-rata). Secara potensial anak yang bertaraf intelegensi tinggi memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi. Gejala berprestasi kurang ini sesungguhnya dirasakan sebagai salah satu masalah dalam belajar karena secara potensial mereka memiliki kemungkinan untuk memperoleh prestasi belajar yang lebih tinggi. Timbulnya gejala ini berkaitan dengan motivasi, minat, sikap dan kebiasaan belajar, ciri-ciri kepribadian tertentu dan pola-pola pendidikan yang diterima dari orang tuanya, serta suasana rumah tangga pada umumnya. Anak-anak dari golongan ini memerlukan perhatian yang sebaik-baiknya dari para guru, terutama dari para petugas bimbingan di sekolah.
Anak yang mencapai suatu prestasi, sebenarnya merupakan hasil kecerdasan dan minat (Lisnawaty, 1993: 58). Jadi seorang siswa tidak mungkin sukses dalam segala aktivitas tanpa adanya minat. Minat dapat timbul pada seseorang jika menarik perhatian terhadap suatu obyek. Perhatian ini akan terjadi dengan sendirinya atau mungkin timbul karena ada pengaruh dari luar.
Minat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan baik. Sebaliknya siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu pelajaran atau ilmu pengetahuan akan senang belajar sehingga dapat berhasil dalam pelajaran itu.

D. Hasil Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Jaya (2003: 30) dengan judul “Hubungan Minat Belajar Matematika Siswa dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas II SLTP Negeri 1 Tikep” yang menyimpulkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan minat belajar matematika siswa dengan hasil belajar matematika siswa kelas II SLTP Negeri 1 Tikep tahun pelajaran 2002/2003 dengan nilai korelasi sebesar 0,7098.

E. Kerangka Pemikiran
Minat belajar merupakan rasa ketertarikan siswa terhadap kegiatan pembelajaran secara penuh perhatian untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai pemahaman tentang berbagai ilmu pengetahuan melalui latihan dan pengalaman. Seorang siswa yang belajar dengan didasari minat, akan memudahkan terciptanya konsentrasi, memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan dan memperkecil kebosanan dalam diri siswa serta melahirkan perhatian yang tinggi.
Tinggi rendahnya minat belajar siswa dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dan prestasi belajar yang diperoleh siswa. Siswa yang belajar tanpa didasari minat, maka ia tidak dapat belajar dengan baik. Hal ini mengakibatkan rendahnya prestasi belajar yang diperoleh siswa.
Dalam proses belajar mengajar matematika, minat juga sangat penting artinya. Dalam hal belajar mengajar, pemahaman konsep-konsep hanya dapat diperoleh bila dilakukan dengan penuh perhatian. Dengan demikian berarti harus didorong oleh minat. Seorang siswa yang belajar matematika tidak sesuai dengan minatnya, maka ia cepat bosan dengan materi yang diberikan. Salah satu faktor penyebab lemahnya siswa terhadap mata pelajaran matematika adalah kurangnya minat, sehingga prestasi belajar matematika yang diperoleh siswa rendah. Seorang siswa yang mempunyai minat untuk mempelajari matematika akan menunjukkan prestasi belajar matematika yang baik. Jadi antara minat belajar dengan prestasi belajar matematika mempunyai hubungan yang sangat erat.

F. Hipotesis Penelitian
Sesuai dengan tinjauan pustaka, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Ada hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika dan prestasi belajar matematika pada siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
Secara statistik, hipotesis di atas dapat dirumuskan sebagai berikut:
H0:  = 0 lawan H1:  > 0
H0 : Tidak ada hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
H1 : Ada hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Minat Belajar Matematika Siswa
Data penelitian yang diperoleh melalui angket minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan, seluruh skor ditransformasi dari skala ordinal ke skala interval dengan menggunakan Method of Successive Interval (MSI).
Skor minat belajar matematika siswa mempunyai rata-rata sebesar 64,1661, standar deviasi sebesar 8,9251, median sebesar 65,3050, modus sebesar 67,77785, nilai terendah sebesar 41,5775 dan nilai tertinggi sebesar 80,0722. Berdasarkan acuan pemberian kategori dalam metode penelitian dengan nilai rata-rata 64,1661 dan standar deviasi sebesar 8,9251. Jika data variabel minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan dimasukkan ke dalam konversi skala 5 (lima) kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi nilai dan persentase seperti dinyatakan pada tabel berikut:
Tabel 1. Kategori Minat Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan

Interval Kategori f %
X  77,5538
68,6287  X < 77,5538
59,7053  X < 68,6287
50,7784  X < 59,7053
X < 50,7784 Sangat Tinggi
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah 3
14
19
11
4 5,88
27,45
37,26
21,57
7,84
Jumlah 51 100
Tabel di atas menunjukkan bahwa 5,88% minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan berada dalam kategori sangat tinggi, 27,45% dalam kategori tinggi, 37,26% dalam kategori sedang, 21,57% dalam kategori rendah dan 7,84% berada dalam kategori sangat rendah.

2. Prestasi Belajar Matematika Siswa
Prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan mempunyai nilai rata-rata sebesar 67,7647, standar deviasi sebesar 15,0620, nilai terendah sebesar 40 dan nilai tertinggi sebesar 100. Modus dari prestasi belajar matematika siswa sebesar 69, dan median sebesar 67,3636.
Pengkategorian prestasi belajar matematika siswa dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2. Kategori Prestasi Belajar Matematika
Interval Kategori f %
80  Y  100
60  Y < 80
Y < 60 Tinggi
Sedang
Rendah 15
20
16 29,41
39,22
31,37
Jumlah 51 100

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 29,41% prestasi belajar siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan berada dalam kategori tinggi, 39,22% dalam kategori sedang, 31,37% dalam kategori rendah.

3. Pengujian Normalitas Data
Sebelum dilakukan analisis korelasi, terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas data yang bertujuan untuk melihat apakah variabel penelitian dalam hal ini variabel X (minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan) dan variabel Y (prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan) berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas data dilakukan dengan menggunakan statistik
Chi-Kuadrat (proses perhitungan ada pada Lampiran 9). Dari hasil pengujian normalitas untuk variabel X diperoleh 2hitung = 4,7035 sedangkan nilai 2tabel = 2(0,95;4) = 9,49. Jadi 2hitung < 2tabel dan variabel Y diperoleh 2hitung = 3,6769 sedangkan nilai 2tabel = 2(0,95;4) = 9,49. Jadi 2hitung < 2tabel, maka dapat disimpulkan bahwa data minat belajar matematika dan prestasi belajar matematika siswa berdistribusi normal.

4. Pengujian Hipotesis
Berdasarkan hasil analisis pada Lampiran 10 diperoleh hubungan minat belajar matematika dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan sebesar r = 0,4179. Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji-t. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai thit sebesar 3,2196. Selanjutnya berdasarkan tabel t pada taraf kepercayaan 95% ( = 0,05) dengan db = 50 diperoleh nilai ttabel = 1,67. Dari kedua hasil ini diperoleh
thit > ttabel yang berarti H0 ditolak (Lampiran 10). Ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika siswa dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.

B. Pembahasan
Dari hasil analisis deskriptif data menunjukkan bahwa minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan yang berada dalam kategori sangat tinggi sebanyak 3 orang siswa atau 5,88%, kategori tinggi sebanyak 14 orang siswa atau 27,45%, kategori sedang sebanyak 19 orang siswa atau 37,26%, kategori rendah sebanyak 2 orang siswa atau 21,57% dan kategori sangat rendah sebanyak 4 orang siswa atau 7,84%.
Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata minat belajar matematika siswa tersebut tampak bahwa siswa yang mempunyai minat belajar matematika yang baik yaitu yang tergolong dalam kategori sedang sampai dengan sangat tinggi adalah sebanyak 36 orang siswa atau 70,59% dan siswa yang mempunyai minat belajar matematika yang kurang yaitu yang tergolong dalam kategori rendah dan sangat rendah adalah sebanyak 15 orang siswa atau 29,41%. Hal ini sesuai dengan jawaban siswa dari angket yang diberikan yaitu keinginan, kemauan dan perhatian terhadap pelajaran matematika lebih banyak siswa yang memberikan skor jawaban yang tinggi sehingga secara umum dapat dikatakan bahwa siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan mempunyai minat belajar matematika yang baik.
Prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan yang berada dalam kategori tinggi sebanyak 15 orang siswa atau 29,41%, kategori sedang sebanyak 20 orang siswa atau 39,22%, dan kategori rendah sebanyak 16 orang siswa atau 31,37%. Berdasarkan perhitungan rata-rata prestasi belajar matematika siswa tersebut tampak pula bahwa siswa yang berprestasi baik yaitu yang tergolong dalam kategori sedang dan tinggi adalah sebanyak 35 orang siswa atau 68,63%, dan siswa yang berprestasi kurang atau buruk yaitu yang tergolong dalam kategori rendah adalah sebanyak 16 orang siswa atau 31,37%. Sehingga secara umum dapat dikatakan pula bahwa siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan mempunyai prestasi belajar matematika yang baik.
Hasil temuan dalam penelitian ini bahwa minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan baik dan prestasi belajar matematikanya juga baik.
Berdasarkan hasil analisis korelasi tentang besarnya hubungan minat belajar matematika siswa (X) dengan prestasi belajar matematika siswa (Y) diperoleh bahwa nilai rxy = 0,4179. Nilai rxy > 0 berarti minat belajar matematika siswa mempunyai hubungan yang positif dengan prestasi belajar matematika siswa. Karena nilai korelasinya terletak pada interval 0,4 – 0,6 maka kedua variabel mempunyai korelasi yang sedang. Hal ini menunjukkan bahwa minat belajar matematika berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika dan minat belajar hanya merupakan salah satu faktor dari beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Sedangkan dari pengujian hipotesis dengan menggunakan uji-t diperoleh
thit = 3,2196 dan ttabel = 1,67. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa thit > ttabel pada taraf signifikan  = 0,05 dan db = 49. Dengan demikian H0 ditolak dan menerima H1 yang berarti terdapat hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.
Dengan demikian nampak bahwa minat belajar matematika merupakan salah satu faktor internal yang sangat menunjang prestasi belajar matematika seorang siswa. Dan semakin baik minat belajar matematika siswa semakin baik pula prestasi belajar matematikanya.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan, maka kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah:
1. Minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan dikatakan baik yaitu sebanyak 36 orang atau 70,59%.
2. Prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan dikatakan baik yaitu sebanyak 39 orang atau 68,63%.
3. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika siswa dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan. Signifikansi ini ditunjukkan oleh hasil uji thit = 3,2196 lebih besar dari ttabel sebesar 1,67. Serta besarnya hubungan minat belajar matematika siswa dengan prestasi belajar adalah 41,79%, kedua variabel mempunyai hubungan yang sedang.

B. Saran
Dengan adanya hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika dengan prestasi belajar matematika, maka diharapkan kepada:
1. Guru: dalam mempersiapkan kegiatan pembelajaran agar selalu memperhatikan hal-hal yang dapat menarik perhatian siswa sehingga dapat menimbulkan minat belajar matematika.
2. Siswa: untuk lebih meningkatkan keinginan, kemauan dan perhatiannya terhadap pelajaran matematika sehingga prestasi belajar matematikanya semakin baik.
DAFTAR PUSTAKA
Adinegoro, 1980. Ensiklopedia Umum dan Bahasa Indonesia. Balai Bintang. Jakarta.
Ahmadi, Abu., Supriyono, W. 1990. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Arikunto, Suharsimi. 1998. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Dewa Ketut Sukardi. 1988. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Bina Aksara
Depdikbud. 1997. Buku Laporan Pendidikan SLTP. Jakarta: Depdikbud.
Hudoyo, Herman. 1990. Strategi Belajar Matematika, IKIP: Malang

Jaya, Darna. 2003. Hubungan Minat Belajar Matematika Siswa dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 1 Tikep. Skripsi: FKIP Unhalu.
Lisnawaty Simanjuntak, dkk. 1993. Metode Mengajar Matematika. Jakarta: Rineka Cipta.
Nasution, Andi Hakim. 1992. Landasan Matematika. Jakarta: Bharata Karya Aksara
Oemar Hamalik. 1991. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA. Bandung: Sinar Baru

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Sudjana, 1996. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito
Sudjana, Nana. 1990. Teori-Teori Belajar untuk Pengajaran. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sugiyono, 2001. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta
Suherman, Erman. 1990. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali
Syah, M. 1995. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Usman, Moh. Uzer., Setiawati Lilis. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Lampiran 1. Kisi-Kisi Angket Minat Belajar Matematika

Faktor/Dimensi Indikator Jumlah Butir Nomor Butir
1. Keinginan siswa dalam belajar matematika - Mengikuti jadwal belajar matematika (+)
- Memperdalam pengetahuan di Perguruan Tinggi (+)
- Mata pelajaran yang susah dan sulit (-)
- Tugas matematika mengganggu konsentrasi belajar (-)
- Latihan soal dapat menambah pemahaman (+)
- Membuat catatan yang lengkap (+)
- Tidak terlambat mengikuti pelajaran matematika (+) 7 1
2
3
4
5
6
7
2. Kemauan siswa dalam belajar matematika - Mengerjakan soal latihan matematika (+)
- Senang apabila guru terlambat masuk mengajar atau tidak masuk (-)
- Acuh tak acuh mengikuti les (-)
- Belajar matematika jika terpaksa (-)
- Tetap belajar walaupun sukar (+)
- Selalu membaca bahan pelajaran (+)
- Berusaha belajar matematika sendiri (+)
- Bergairah mengikuti pelajaran matematika (+) 8 8
9

10
11
12
13
14
15
3. Perhatian siswa dalam belajar matematika - Memikirkan hal lain saat belajar (-)
- Bertanya pada guru (+)
- Memperhatikan dengans seksama jika guru menerangkan (+)
- Tekun mengikuti pelajaran (+)
- Tidak serius belajar matematika (-) 5 16
17

18
19
20


Lampiran 2. Angket Minat Belajar Matematika

Bidang Studi :
Kelas :
Nama :
Petunjuk:
1. Dibawah ini disajikan 20 butir pernyataan, anda diminta untuk menjawab setiap butir pernyataan tersebut.
2. Apapun pilihan jawaban anda tidak akan mempengaruhi nilai matematika anda, tetapi semata-mata untuk meningkatkan mutu pendidikan. Karena itu anda diharapkan memilih jawaban yang benar-benar berdasarkan pendapat dan keadaan anda sendiri.
3. pilihlah salah satu jawaban yang menurut anda paling tepat dengan memberi tanda silang (X) pada salah satu alternatif jawaban yang ada.
Pernyataan
1. Saya mengikuti jadwal pelajaran matematika dan tidak pernah bolos.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
2. Setelah lulus SMA saya berkeinginan memperdlaam pengetahuan matematika di Perguruan Tinggi.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
3. Bagi saya matematika adalah mata pelajaran yang susah dan sulit untuk dimengerti.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
4. Bagi saya tugas matematika tidak bermanfaat karena hanya mengganggu konsentrasi belajar saya pada mata pelajaran lain.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
5. Latihan soal bagi saya sangat bermanfaat karena dapat menambah pemahaman saya terhadap materi yang diberikan.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
6. Saya membuat catatan yang lengkap jika sedang belajar matematika.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
7. Saya berusaha untuk tidak terlambat mengikuti pelajaran matematika.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
8. Setelah selesai mempelajari mata pelajaran matematika, saya selalu mengerjakan soal latihan.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
9. Apabila guru matematika terlambat masuk mengajar atau tidak masuk mengajar, maka sebagian besar kawan-kawan saya bergembira, sikap kawan itu saya . . .
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu

10. Saya bersikap acuh tak acuh apabila guru memberikan les karena menurut saya hal itu tidak berguna dan hanya membuang waktu saja.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
11. Saya belajar matematika jika dipaksa.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
12. Walaupun pelajaran matematika sukar karena terlalu banyak perhitungannya, saya selalu berusaha untuk mempelajarinya.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
13. Sebelum mengikuti pelajaran di kelas, terlebih dahulu saya membaca bahan pelajaran yang akan dipelajari.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
14. Apabila suatu waktu guru matematika berhalangan masuk mengajar, maka saya berusaha belajar matematika sendiri.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
15. Saya bergairah mengikuti pelajaran matematika karena menurut saya hal itu akan lebih meningkatkan pemahaman saya pada materi pelajaran matematika.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
16. Jika sedang belajar matematika maka saya memikirkan hal lain tanpa memperhatikan apa yang diajarkan oleh guru.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
17. Dalan proses belajar matematika, kalau ada hal-hal yang kurang dimengerti maka saya menanyakannya pada guru.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
18. Saya memperhatikan dengan seksama jika guru menjelaskan materi pelajaran matematika di kelas.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
19. Walaupun metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar saya kurang senang tetapi saya tetap tekun mengikutinya.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu
20. Saya tidaks serius setiap belajar matematika di kelas.
A. Sangat Setuju D. Tidak Setuju
B. Setuju E. Sangat Tidak Setuju
C. Ragu-Ragu


Lampiran 3. Sebaran Skor Data Minat Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan

No. Nomor Item 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
1 5 5 5 4 4 4 4 5 4 4 2 4 3 4 4 4 5 4 2 3 79
2 4 5 4 3 5 4 4 5 4 3 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 85
3 5 5 1 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 4 5 5 93
4 5 3 4 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 1 91
5 4 5 4 5 4 2 4 1 5 4 5 4 3 2 4 4 5 5 2 4 76
6 4 5 3 4 5 4 5 4 4 5 4 4 5 4 5 3 3 4 5 5 85
7 4 5 5 5 5 5 2 2 1 4 1 5 2 1 4 1 1 4 5 4 66
8 5 5 3 3 5 5 5 5 3 2 4 5 5 4 5 2 2 4 5 3 80
9 4 5 3 4 4 5 5 5 3 4 5 5 4 4 5 3 5 5 5 5 88
10 5 3 1 5 4 5 5 5 4 5 3 4 4 3 5 4 3 2 5 4 79
11 4 3 4 4 3 4 4 4 5 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 77
12 4 3 4 4 3 5 5 5 5 4 3 4 4 5 2 4 5 5 4 4 82
13 4 3 5 1 4 1 3 3 4 5 5 5 4 5 3 4 3 4 3 4 73
14 5 4 4 5 4 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 2 4 89
15 2 2 2 3 3 2 2 2 4 3 4 4 2 2 3 3 3 2 3 2 53
16 5 3 3 2 5 5 5 5 5 2 4 5 5 4 5 3 4 5 4 4 83
17 4 4 2 3 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 77
18 4 3 2 3 4 2 3 3 4 4 5 2 3 1 3 2 2 4 5 3 62
19 4 4 2 2 5 5 4 4 4 2 2 4 4 4 4 4 5 4 4 2 73
20 4 5 4 4 1 4 5 5 5 5 5 4 4 5 5 5 4 4 5 5 88
21 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 1 5 5 5 5 95
22 4 4 2 4 1 5 5 4 4 5 2 3 4 5 5 5 4 4 5 5 80
23 5 3 2 3 5 4 5 4 4 5 4 5 4 5 4 3 5 4 4 1 79
24 4 3 4 5 1 4 4 5 5 5 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 85
25 3 2 2 3 4 4 4 3 2 3 2 3 3 4 4 2 3 4 4 2 61
26 4 3 4 5 4 5 4 3 4 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 85
27 4 3 4 5 5 5 4 4 4 2 5 5 4 5 5 5 5 4 5 4 87
28 5 3 4 5 5 4 5 4 5 5 5 5 4 4 4 5 5 5 5 4 91
29 5 5 4 5 5 5 5 4 3 4 3 5 5 4 3 4 5 4 5 3 86
30 4 3 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 81
31 5 5 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 93
32 5 3 3 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 94
33 3 3 3 3 5 5 5 4 4 5 5 5 5 3 2 4 5 5 4 4 82
34 5 4 2 4 4 4 4 2 4 5 4 4 4 4 4 1 4 1 1 2 67
35 4 2 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 4 4 73
36 5 5 4 4 5 2 5 5 1 1 4 5 2 5 2 1 2 5 2 1 66
37 3 3 3 4 5 5 4 5 4 5 4 4 5 5 5 4 5 4 5 5 87
38 5 5 2 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 96
39 5 5 4 5 4 5 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 94
40 5 5 3 1 2 5 5 5 4 4 4 5 5 5 5 4 5 5 5 4 86
41 4 4 3 5 5 4 3 4 5 5 5 1 4 1 5 5 4 4 4 2 77
42 5 5 4 4 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 97
43 5 3 5 4 5 5 4 3 5 4 5 5 3 4 5 5 4 5 4 5 88
44 5 3 3 4 4 4 4 2 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 78
45 4 3 4 5 5 5 4 4 4 2 5 5 4 5 5 5 5 4 4 4 86
46 4 3 4 4 5 2 4 4 3 4 5 4 5 3 4 3 1 4 5 3 74
47 5 3 3 4 4 4 4 2 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 78
48 4 3 2 4 4 5 5 4 2 5 4 5 5 3 5 3 5 5 5 5 83
49 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 80
50 5 3 4 5 5 5 5 5 4 5 5 5 4 3 5 5 5 5 4 5 92
51 3 1 1 2 4 5 3 1 1 3 4 4 4 1 2 3 2 3 3 3 53


Lampiran 4. Proses Tranformasi dari Skala Ordinal ke Skala Interval Melalui MSI Data Minat Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan

Frekuensi jawaban dengan nilai 1 = 33
2 = 73
3 = 113
4 = 389
5 = 412
Jumlah jawaban keseluruhan = jumlah nomor angket x jumlah sampel
= 20 x 51
= 1020
Proporsi jawaban dengan nilai 1 : p1 =
2 : p2 =
3 : p3 =
4 : p4 =
5 : p5 =
Proporsi jawaban kumulatif dengan nilai 1 : pk1 = 0 + 0,0324 = 0,0324
2 : pk2 = 0,0324 + 0,0716 = 0,1040
3 : pk3 = 0,1040 + 0,1108 = 0,2148
4 : pk4 = 0,2148 + 0,3814 = 0,5962
5 : pk5 = 0,5962 + 0,4038 = 1,000
Proporsi kumulatif ini dianggap mengikuti distribusi normal baku dan diperoleh nilai-nilai Z sebagai berikut:
Untuk 0,0324 diperoleh Z1 = = 1,85
Untuk 0,1040 diperoleh Z2 = = 1,26
Untuk 0,2148 diperoleh Z3 = = 0,79
Untuk 0,5962 diperoleh Z4 = 0,24
Untuk 1,000 diperoleh Z5 = 
Nilai-nilai Z tersebut di atas ditransformasikan ke dalam tabel ordinat distribusi normal baku untuk mengetahui density masing-masing Z yaitu:
Density Z1 = 0,0721
Density Z2 = 0,1804
Density Z3 = 0,2920
Density Z4 = 0,3876
Density Z5 = 0,0000
Sehingga nilai-nilai skala diperoleh sebagai berikut:
NS1 =
NS2 =
NS3 =
NS4 =
NS5 =
Nilai skala terkecil (harga negatif terbesar) diubah menjadi sama dengan 1 sehingga diperoleh:
NS1 = -2,2253 + 3,2253 = 1
NS2 = -1,5126 + 3,2253 = 1,7127
NS3 = -1,0072 + 3,2253 = 2,2181
NS4 = -0,2507 + 3,2253 = 2,9476
NS5 = 0,9599 + 3,2253 = 4,1852

Lampiran 5. Skor Minat Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan dari Skala Ordinal ke Skala Interval

Resp. Skala Ordinal Jumlah Item Skala Interval Jumlah Skor
1 2 3 4 5 1 1,7127 2,2181 2,9746 4,1852
1 0 2 2 11 5 20 0 3,4254 4,4362 32,7206 20,9260 61,5082
2 0 0 2 11 7 20 0 0,0000 4,4362 32,7206 29,2964 66,4532
3 1 0 0 3 16 20 1 0,0000 0,0000 8,9238 66,9632 76,8870
4 1 0 2 1 16 20 1 0,0000 4,4362 2,9746 66,9632 75,3740
5 1 3 1 9 6 20 1 5,1381 2,2181 26,7714 25,1112 60,2388
6 0 0 3 9 8 20 0 0,0000 6,6543 26,7714 33,4816 66,9073
7 5 3 0 5 7 20 5 5,1381 0,0000 14,8730 29,2964 54,3075
8 0 3 4 3 10 20 0 5,1381 8,8724 8,9238 41,8520 64,7863
9 0 0 3 6 11 20 0 0,0000 6,6543 17,8476 46,0372 70,5391
10 1 1 4 6 8 20 1 1,7127 8,8724 17,8476 33,4816 62,9143
11 0 1 2 16 1 20 0 1,7127 4,4362 47,5936 4,1852 57,9277
12 0 1 3 9 7 20 0 1,7127 6,6543 26,7714 29,2964 64,4348
13 2 0 6 7 5 20 2 0,0000 13,3086 20,8222 20,9260 57,0568
14 0 1 0 8 11 20 0 1,7127 0,0000 23,7968 46,0372 71,5467
15 0 10 7 3 0 20 0 17,1270 15,5267 8,9238 0,0000 41,5775
16 0 2 3 5 10 20 0 3,4254 6,6543 14,8730 41,8520 66,8047
17 0 2 1 15 2 20 0 3,4254 2,2181 44,6190 8,3704 58,6329
18 1 5 7 5 2 20 1 8,5635 15,5267 14,8730 8,3704 48,3336
19 0 5 0 12 3 20 0 8,5635 0,0000 35,6952 12,5556 56,8143
20 1 0 0 8 11 20 1 0,0000 0,0000 23,7968 46,0372 70,8340
21 1 0 0 1 18 20 1 0,0000 0,0000 2,9746 75,3336 79,3082
22 1 2 1 8 8 20 1 3,4254 2,2181 23,7968 33,4816 63,9219
23 1 1 3 8 7 20 1 1,7127 6,6543 23,7968 29,2964 62,4602
24 1 0 1 9 9 20 1 0,0000 2,2181 26,7714 37,6668 67,6563
25 0 6 7 7 0 20 0 10,2762 15,5267 20,8222 0,0000 46,6251
26 0 0 2 11 7 20 0 0,0000 4,4362 32,7206 29,2964 66,4532
27 0 1 1 8 10 20 0 1,7127 2,2181 23,7968 41,8520 69,5796
28 0 0 1 7 12 20 0 0,0000 2,2181 20,8222 50,2224 73,2627
29 0 0 4 6 10 20 0 0,0000 8,8724 17,8476 41,8520 68,5720
30 0 0 1 17 2 20 0 0,0000 2,2181 50,5682 8,3704 61,1567
31 0 0 2 3 15 20 0 0,0000 4,4362 8,9238 62,7780 76,1380
32 0 0 2 2 16 20 0 0,0000 4,4362 5,9492 66,9632 77,3486
33 0 1 5 5 9 20 0 1,7127 11,0905 14,8730 37,6668 65,3430
34 3 3 0 12 2 20 3 5,1381 0,0000 35,6952 8,3704 52,2037
35 0 3 1 16 0 20 0 5,1381 2,2181 47,5936 0,0000 54,9498
36 4 5 0 3 8 20 4 8,5635 0,0000 8,9238 33,4816 54,9689
37 0 0 3 7 10 20 0 0,0000 6,6543 20,8222 41,8520 69,3285
38 0 1 0 1 18 20 0 1,7127 0,0000 2,9746 75,3336 80,0209
39 0 0 0 6 14 20 0 0,0000 0,0000 17,8476 58,5928 76,4404
40 1 1 1 5 12 20 1 1,7127 2,2181 14,8730 50,2224 70,0262
41 2 1 2 8 7 20 2 1,7127 4,4362 23,7968 29,2964 61,2421
42 0 0 0 3 17 20 0 0,0000 0,0000 8,9238 71,1484 80,0722
43 0 0 3 6 11 20 0 0,0000 6,6543 17,8476 46,0372 70,5391
44 0 1 2 15 2 20 0 1,7127 4,4362 44,6190 8,3704 59,1383
45 0 1 1 9 9 20 0 1,7127 2,2181 26,7714 37,6668 68,3690
46 1 1 5 9 4 20 1 1,7127 11,0905 26,7714 16,7408 57,3154
47 0 1 2 15 2 20 0 1,7127 4,4362 44,6190 8,3704 59,1383
48 0 2 3 5 10 20 0 3,4254 6,6543 14,8730 41,8520 66,8047
49 0 0 1 18 1 20 0 0,0000 2,2181 53,5428 4,1852 59,9461
50 0 0 2 4 14 20 0 0,0000 4,4362 11,8984 58,5928 74,9274
51 5 3 7 4 1 20 5 5,1381 15,5267 11,8984 4,1852 41,7484


Lampiran 6. Data Hasil Penelitian

No. Nama X Y No. Nama X Y
1 Susiani 61,5082 64 27 Adi F,S, 69,5796 50
2 Wa Ode Salina 66,4532 70 28 Samsiah 73,2627 85
3 Risna 76,8870 60 29 Rahmawati 68,5720 90
4 Suherman 75,3740 67 30 Mardianto 61,1567 56
5 Rasmin 60,2388 40 31 Waka 76,1380 67
6 Hariono 66,9073 94 32 Musriani 77,3486 75
7 Rusiati 54,3075 60 33 Dian Ekawati 65,3430 80
8 Wa Ode Nining Yuni K, 64,7863 67 34 Sunia 52,2037 67
9 La Mudi 70,5391 100 35 Debi 54,9498 43
10 Surati Lataha 62,9143 72 36 Irfan Anas 54,9689 65
11 Mariono 57,9277 65 37 Afriani 69,3285 50
12 La Adi 64,4348 47 38 Eka Faniah 80,0209 100
13 Wa Ode Jaetima 57,0568 54 39 Agus 76,4404 73
14 La Isa 71,5467 80 40 Lisnawati 70,0262 70
15 Wa Ode Nurfiani Saadah 41,5775 60 41 Sartono 61,2421 55
16 Erman 66,8047 75 42 Kartika Sari 80,0722 100
17 Aliadin 58,6329 60 43 Nofita Sari 70,5391 83
18 Pelianti 48,3336 53 44 Ahmadi 59,1383 57
19 Satiani 56,8143 80 45 Rubiadin 68,3690 56
20 Wa Ode Murniati 70,8340 74 46 Herianto 57,3154 80
21 Alimuddin 79,3082 90 47 Kiki Reski Hosana 59,1383 54
22 Lutan Maharani 63,9219 40 48 Musniati 66,8047 60
23 Yulisnawati 62,4602 53 49 La Ode Juliadin 59,9461 50
24 Hastuti 67,6563 80 50 Fitriah Salma 74,9274 90
25 Andiono 46,6251 67 51 Nufri Sulasmin Eka 41,7484 50
26 Hardianto S, 66,4532 80


Lampiran 7. Perhitungan Nilai-Nilai untuk Nilai r

No. Resp. Xi Yi XiYi Xi2 Yi2
1 61,5082 64 3936,5248 3783,2587 4096
2 66,4532 70 4651,7240 4416,0278 4900
3 76,8870 60 4613,2200 5911,6108 3600
4 75,3740 67 5050,0580 5681,2399 4489
5 60,2388 40 2409,5520 3628,7130 1600
6 66,9073 94 6289,2862 4476,5868 8836
7 54,3075 60 3258,4500 2949,3046 3600
8 64,7863 67 4340,6821 4197,2647 4489
9 70,5391 100 7053,9100 4975,7646 10000
10 62,9143 72 4529,8296 3958,2091 5184
11 57,9277 65 3765,3005 3355,6184 4225
12 64,4348 47 3028,4356 4151,8435 2209
13 57,0568 54 3081,0672 3255,4784 2916
14 71,5467 80 5723,7360 5118,9303 6400
15 41,5775 60 2494,6500 1728,6885 3600
16 66,8047 75 5010,3525 4462,8679 5625
17 58,6329 60 3517,9740 3437,8170 3600
18 48,3336 53 2561,6808 2336,1369 2809
19 56,8143 80 4545,1440 3227,8647 6400
20 70,8340 74 5241,7160 5017,4556 5476
21 79,3082 90 7137,7380 6289,7906 8100
22 63,9219 40 2556,8760 4086,0093 1600
23 62,4602 53 3310,3906 3901,2766 2809
24 67,6563 80 5412,5040 4577,3749 6400
25 46,6251 67 3123,8817 2173,9000 4489
26 66,4532 80 5316,2560 4416,0278 6400
27 69,5796 50 3478,9800 4841,3207 2500
28 73,2627 85 6227,3295 5367,4232 7225
29 68,5720 90 6171,4800 4702,1192 8100
30 61,1567 56 3424,7752 3740,1420 3136
31 76,1380 67 5101,2460 5796,9950 4489
32 77,3486 75 5801,1450 5982,8059 5625
33 65,3430 80 5227,4400 4269,7076 6400
34 52,2037 67 3497,6479 2725,2263 4489
35 54,9498 43 2362,8414 3019,4805 1849
36 54,9689 65 3572,9785 3021,5800 4225
37 69,3285 50 3466,4250 4806,4409 2500
38 80,0209 100 8002,0900 6403,3444 10000
39 76,4404 73 5580,1492 5843,1348 5329
40 70,0262 70 4901,8340 4903,6687 4900
41 61,2421 55 3368,3155 3750,5948 3025
42 80,0722 100 8007,2200 6411,5572 10000
43 70,5391 83 5854,7453 4975,7646 6889
44 59,1383 57 3370,8831 3497,3385 3249
45 68,3690 56 3828,6640 4674,3202 3136
46 57,3154 80 4585,2320 3285,0551 6400
47 59,1383 54 3193,4682 3497,3385 2916
48 66,8047 60 4008,2820 4462,8679 3600
49 59,9461 50 2997,3050 3593,5349 2500
50 74,9274 90 6743,4660 5614,1153 8100
51 41,7484 50 2087,4200 1742,9289 2500


Lampiran 8. Distribusi Frekuensi Data Hasil Penelitian

1. Data Minat Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan

Untuk membuat daftar distribusi frekuensi dengan panjang kelas yang sama dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Menetapkan range (rentang) R = data terbesar dikurangi data terkecil.
R = 80,0722 – 41,5775 = 38,4947
b. Menentukan banyaknya kelas (K) yang diperlukan paling sedikit 5 kelas dan paling banyak 15 kelas dengan menggunakan aturan Sturges yaitu:
K = 1 + 3,3 log n
K = 1 + 3,3 log 51
= 1 + 3,3(1,7076)
= 1 + 5,6351
= 6,6351  7
c. Menentukan panjang kelas interval (P) dengan menggunakan rumus:
P =
=
= 5,4992  6








Tabel Distribusi Frekuensi Skor Minat Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan
Kelas Interval Xi fi % fiXi



41,5775 - 47,5775 44,5775 3 5,88 133,7325 -19,5886 383,7119 1151,1356
47,5776 - 53,5776 50,5776 2 3,92 101,1552 -13,5885 184,6464 369,2927
53,5777 - 59,5777 56,5777 10 19,61 565,777 -7,5884 57,5833 575,8328
59,5778 - 65,5778 62,5778 11 21,57 688,3558 -1,5883 2,5226 27,7484
65,5779 - 71,5779 68,5779 15 29,41 1028,6685 4,4118 19,4643 291,9644
71,5780 - 77,5780 74,578 7 13,73 522,046 10,4119 108,4084 758,8588
77,5781 - 83,5781 80,5781 3 5,88 232,7343 16,4120 269,3549 808,0647
Jumlah 51 100 3272,4693 3982,8974

Nilai maksimum = 80,0722
Nilai Minimum = 41,5775
=
=
S =
=
= 8,9251
Untuk menghitung median dan modus digunakan rumus:
Median = dan Modus =
Dimana:
Bb = Batas bawah nyata kelas median atau modus
d1 = selisih frekuensi interval modus dengan interval sebelumnya
d2 = selisih frekuensi interval modus dengan interval sesudahnya
fk = frekuensi kumulatif sebelum kelas modus atau kelas median
fmedian = frekuensi interval median
N = banyaknya responden
C = panjang interval
Sehingga diperoleh:
Median =
=
= 59,57775 + 5,72724
= 65,30499
Modus =
= 65,57785 + 2
= 67,77785

2. Data Prestasi Belajar Matematika
Dengan menggunakan cara yang sama pada data minat belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan untuk membuat tabel distribusi frekuensi prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi diperoleh:
a. Rentang = 60
b. Banyak Kelas = 7
c. Panjang Kelas = 9
Tabel Distribusi Frekuensi Nilai Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 wangi-Wangi Selatan
Kelas Interval fi Xi fiXi %



38 - 46 3 42 126 5,88 -25,7647 663,8198 1991,4593
47 - 55 10 51 510 19,61 -16,7647 281,0552 2810,5517
56 - 64 9 60 540 17,65 -7,7647 60,2906 542,6151
65 - 73 11 69 759 21,57 1,2353 1,5260 16,7856
74 - 82 9 78 702 17,65 10,2353 104,7614 942,8523
83 - 91 5 87 435 9,80 19,2353 369,9968 1849,9838
92 - 100 4 96 384 7,84 28,2353 797,2322 3188,9287
Jumlah 3456 100,00 11343,1765

Nilai maksimum = 100
Nilai Minimum = 40
=
=
S =
= = 15,0620
Median =
=
= 64,5 + 2,8636
= 67,3636
Modus =
= 64,5 + 4,5
= 69

Lampiran 9. Analisis Uji Normalitas Data Minat Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan

1. Uji Normalitas Data Penelitian Nilai Minat Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan

Kelas Interval Batas Kelas Z Ztabel Luas Inteval Ei Oi

41,57745 -2,53 0,0057
41,5775 - 47,5775 0,0257 1,3107 3 2,1772
47,57755 -1,86 0,0314
47,5776 - 53,5776 0,0856 4,3656 2 1,2818
53,57765 -1,19 0,117
53,5777 - 59,5777 0,188 9,588 10 0,0177
59,57775 -0,51 0,305
59,5778 - 65,5778 0,2586 13,1886 11 0,3631
65,57785 0,16 0,5636
65,5779 - 71,5779 0,2331 11,8881 15 0,8145
71,57795 0,83 0,7967
71,5780 - 77,5780 0,1365 6,9615 7 0,0002
77,57805 1,50 0,9332
77,5781 - 83,5781 0,0518 2,6418 3 0,0485
83,57815 2,17 0,985 Jumlah 4,7035

2hitung =
= 2,1772 + 1,2818 + 0,0177 + 0,3631 + 0,8145 + 0,0002 + 0,0485
= 4,7035
2tabel = 2(0,95;4) = 9,49
oleh karena 2hitung < 2tabel, maka data minat belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3Wangi-Wangi Selatan berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

2. Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan


Kelas Interval Batas Kelas Z Ztabel Luas Inteval Ei Oi

37,5 -2,01 0,0222
38 - 46 0,0571 2,9121 3 0,0027
46,5 -1,41 0,0793
47 - 55 0,1297 6,6147 10 1,7325
55,5 -0,81 0,2090
56 - 64 0,2039 10,3989 9 0,1882
64,5 -0,22 0,4129
65 - 73 0,2351 11,9901 11 0,0818
73,5 0,38 0,6480
74 - 82 0,1885 9,6135 9 74 - 82
82,5 0,98 0,8365
83 - 91 0,1064 5,4264 5 0,0335
91,5 1,58 0,9429
92 - 100 0,0421 2,1471 4 1,5990
100,5 2,17 0,9850 Jumlah 3,6769

2hitung =
= 0,0027 + 1,7325 + 0,1882 + 0,0818 + 0,0352 + 0,0335 + 1,5990
= 3,6769
2tabel = 2(0,95;4) = 9,49
oleh karena 2hitung < 2tabel, maka data prestasi belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan berasal dari populasi yang berdistribusi normal.






Lampiran 10. Perhitungan Analisis Korelasi Minat dengan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan

Berdasarkan data hasil penelitian diperoleh sebagai berikut:
= 3288,8836 = 10816755,3343
= 3458 = 11957764
= 216443,8655 = 226822,3024
= 246934 N = 51

=
=
=
= 0,4179
Jadi koefisien korelasi minat belajar matematika dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan adalah 0,4179 > 0. Berarti terdapat hubungan positif minat belajar matematika dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.

Lampiran 11. Analisis Statistik Uji-t untuk Pengujian Hipotesis Penelitian
Diketahui:
n = 51
rXY = 0,4179
(rXY)2 = 0,1746
maka
thitung =
=
=
=
= 3,2196
Sedangkan ttabel = t(0,95;50) = 1,67
Jadi thitung = 3,2196 > ttabel = 1,67
Dengan demikian H0 ditolak berarti ada hubungan positif yang signifikan antara minat belajar matematika dengan prestasi belajar matematika siswa kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan.

Tabel ... Deksripsi Kategori Minat Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan

Interval Kategori f %
X  77,5538
68,6287  X < 77,5538
59,7053  X < 68,6287
50,7784  X < 59,7053
X < 50,7784 Sangat Tinggi
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah 3
14
29
11
4 5,88
27,45
37,25
21,57
7,84
Jumlah 51 100

Tabel ... Deksripsi Kategori Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan

Interval Kategori f %
80  Y  100
60  Y < 80
Y < 60 Tinggi
Sedang
Rendah 15
20
16 29,41
39,22
31,37
Jumlah 51 100

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar